Siapa bilang keadidayaan Amerika itu sejati? Amerika-yang selama ini tenar sebagai negara adikuasa- tak ubahnya seperti Goliath. Ya, raksasa Goliath dalam kisah (Daud) "David dan Goliath". Sosok yang merasa paling kuat sejagad, hobi membawa gada dan meluluhlantakkan siapa yang menetangnya dengan sekali sabetan, semena-mena juga maruk kuasa. Tetapi, siapa pun tahu, sejarah berkata lain. Raksasa Goliath-meskipun kuat-dapat dikalahkan oleh Daud (David). Kekuatan dan keperkasaan Goliath terbukti tidak absolut. Goliath ditumbangkan Daud (David) yang kecil dan tak sepadan dengannya. Jika adagium ‘sejarah akan berulang' itu benar, maka yang disampaikan dalam pengantar buku ini bukan sekadar omong doang. Kedigdayaan Amerika hanyalah mitos! Amerika yang diidentikkan dengan Raja Goliath, akan mengalami kejatuhan karena digulingkan oleh Daud-daud (Davis-david) yang lain. Siapa Daud (David) yang dimaksud? Siapa yang bisa di gadang-gadang untuk bisa mereduksi kesuperpoweran Amerika? Amir Hendarsah, dalam 11 Macan Asia Musuh Amerika mencoba mengangkat profil-profil negara yang dianggap berperan sebagai Daud (David) kecil. Negara-negara ini-meskipun kecil dan terlihat tak punya daya- menyimpan segudang potensi untuk meruntuhkan kekuasaan negara Paman Sam yang telah mengakar kuat di pelosok jagad. Ada Vietnam, Korea Utara, dan Jepang. Mereka-negara-negara kecil Asia ini-dalam catatan sejarah berhasil membuat angkatan bersenjata Amerika kebat-kebit dalam perang-perang di Asia. Masih di kawasan Asia, Republik Rakyat China-yang kekuatan angkatan bersenjatanya berada di urutan ke-3 dunia-menjadi potensi ancaman yang sangat besar bagi Amerika. Ada Irak-yang meski berhasil diduduki Amerika-telah menjadi ‘kerikil dalam sepatu' karena selama puluhan tahun menolak tunduk atas tekanan Amerika. Apa ajian dan senjata yang dimiliki negara-negara kecil ini untuk head to head melawan Amerika? Buku ini secara ringkas mengupasnya. Ketika angkatan bersenjata Amerika mempunyai persenjataan canggih seperti pesawat tempur, tank, mobil peluncur roket, maka gudang amunisi Daud-Daud kecil ini juga mempunyai hal yang sama. Meski dari segi kuantitas dan kualitas senjata berbeda, para Daud (David) kecil ini memiliki beberapa hal yang ditakuti Amerika. Irak dalam panduan Ahmadinejad tetap nekat melanjutkan proyek uraniumnya. Kemudian ada Mahathir Mohammad dengan partai UMNOnya yang getol mengkiritk Ekonomi kapitalisme ala Amerika. Dengan sepihak membatalkan pembelian senjata dari Amerika dan memilih beralih ke Rusia. Hal-hal seperti ini sukses membuat negara yang dipimpin Bush Jr. kebakaran jenggot karena memilih tak sejalan dengan kebijakan Amerika. Tak lupa, Ir. Sukarno-proklamator kita- juga dihadirkan. Perlawanan Bung Karno menolak sistem imperialisme ekonomi telah memunculkan kabar burung bahwa CIA ikut andil dalam peralihan kekuasaan orla-orba. Meski hanya diceritakan secara ringkas, buku ini dapat mengingatkan kembali aksi dan kiprah para tokoh besar Asia yang berani menetang kebijakan Amerika. Meski belum semua tokoh Asia-yang di black list Amerika- diulas dalam pemaparannya, Amir Hendarsah telah menyajikan satu khazanah melengkapi bacaan-bacaan kita. Buku ini tak hanya perlu dibaca oleh penyuka buku politik, namun, pelajar juga. Guna melengkapi cakrawala memandang sejarah dunia. Peresensi: Rr. Hani P.N Mahasiswa FISIPOL UGM, pecinta buku, pegiat di FOSMA ESQ Jogja. Judul 11 Macan Asia musuh Amerika Penulis Amir Hendarsah, Pratiwi Utami, Amir Hendarsah Penerbit Galangpress Group, 2007 ISBN 9792399194, 9789792399196 Tebal 206 halaman
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April 1949 pada umur 53 tahun[1]) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.
Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan sosialis, ia juga sering terlibat konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.[rujukan?]
Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.
Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh "sekelompok orang tak dikenal" di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.[2]
Riwayat
Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka di undang dalam acara tersebut.
Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda. Perjuangan
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.
Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.
Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.
Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.
Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.
Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.
Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."
Madilog
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama. Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.
Pahlawan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].
Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
Tan Malaka dalam fiksi
Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.
Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).
Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera. Beberapa judul kisah Patjar Merah: Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938) Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938) Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940) Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940) Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)
Judul Misteri Supersemar Dëtak files Penulis Eros Djarot Editor Eros Djarot Penerbit MediaKita, 2006 ISBN 979794011X, 9789797940119 Tebal 107 halaman
Supersemar merupakan salah satu fase gelap dalam sejarah Indonesia. Sebagian menganggap peristiwa itu adalah kudeta terselubung yang dilakukan oleh Soeharto, dengan dukungan Angkatan Darat, kepada Presiden Soekarno. Sebagian lagi menganggap Supersemar adalah keharusan, karena Soekarno telah menempuh langkah yang melenceng dan tak bisa dibiarkan begitu saja. Perdebatan tentang Supersemar makin menguat bersamaan dengan kegerahan orang terhadap pemerintahan Soeharto yang makin menekan dan terkesan tidak rela untuk meninggalkan kursi kepresidenannya. Ini membuat Supersemar dibicarakan dalam suara negatif: bahwa yang dipegang Soeharto adalah Supersemar palsu-Supersemar yang direkayasa sedemikian rupa sehingga memberi wewenang tak terbatas bagi pemegangnya.
Salah satu media yang gigih mengungkap perkara Supersemar adalah DeTAK. Dalam edisi No. 32, tahun ke-1, tanggal 2-8 Maret 1999, DeTAK mengangkat satu laporan yang cukup lengkap tentang Supersemar dengan menampilkan narasumber yang sebelumnya “diancam” agar tidak bersuara.
Kumpulan artikel dan pemberitaan tentang Supersemar di DeTAK itu diterbitkan lagi dalam bentuk buku yang berjudul Misteri Supersemar. Buku yang diterbitkan oleh mediakita ini juga dilengkapi hasil wawancara dengan Ali Ebram, si pengetik Supersemar.
Aksi tebar uang dari pesawat yang dilakukan Tung Desem Waringin masih segar dalam ingatan. Bagaimana tidak. Usai pengumuman kenaikan harga BBM, publikasi rencana penyebaran uang dan tiket seminar senilai 100 juta jelas menyita perhatian masyarakat luas.
Ada yang tidak sabar menantikan hari H, ada yang bersikap wait and see, apakah motivator nomor 1 di Indonesia ini benar-benar akan memegang janjinya? Tapi Tung Desem bergeming, daripada memboroskan uang untuk iklan lebh baik disebarkan pada yang membutuhkan.
Hasilnya, gila! Ratusan orang berbondong-bondong mendatangi Stadion Sepak Bola Baladika Kesatrian. Tidak hanya itu, media nasional bahkan internasional pun amai meliput peristiwa langka ini. Tung Desem berhasil! Dengan modal tidak seberapa, nama Tung Desem bisa terkenal ke seluruh penjuru dunia.
Ini bukan kali pertama Tung Desem melakukan aksi nyleneh dalam rangka peluncuran bukunya. Dia salah satu motivator di dunia yang kerap memberi tantangan yang nyaris mustahil.
Termasuk ketika ia memecahkan rekor MURI ketika berhasil menjual buku pertamanya, Financial Revolution, sebanyak 10.511 eksemplar di hari peluncurannya. Salah satu langkah gilanya adalah naik kuda putih sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta, dengan pakaian jas hitam membungkus baju putih, dan dasi, calam hitam dan mengenakan blangkon cokelat.
Tangan kanannya memegang kendali kuda seperti seorang joki profesional dan tangan kirinya mngacung-ngacungkan bukunya itu. Ia membuat gempar warga. Buku ini mengungkap segala kegilaan yang dilakukan Tung Desem dalam meraih yang terbaik dan tetap terus menjadi yang terbaik.
Judul buku: Niskala Penulis: Hermawan Aksan Penyunting: Imam Risdiyanto Penerbit: Bentang Cetakan: I, Juli 2008 Tebal: 289 hlm
Tidak mudah memadukan fakta sejarah dengan fiksi dan tak banyak penulis yang mampu melakukannya dengan baik. Salah satu yang terbaik, siapa lagi kalau bukan, Pramoedya Ananta Toer. Lihat saja bagaiman ia dengan piawainya menghaturkan sejarah kerajaan Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui tuturan memikat dalam buku gemuk Arus Balik. Dan tentu masterpiece-nya Bumi Manusia , episode awal tetraloginya itu, yang menyoal riwayat hidup Raden Mas Adi Suryo, tokoh pers pertama Indonesia.
Di belakang Pram, ada banyak lagi penulis fiksi sejarah yang cukup rajin dan konsisten dengan jalur yang dipilihnya, antara lain: Remy Sylado, Langit Kresna dengan serial Gajah Mada-nya serta Hermawan Aksan. Nama yang terakhir ini, sama halnya dengan Langit Kresna, menuliskan kembali riwayat Gajah Mada hanya dengan perspektif yang berbeda. Hermawan Aksan mengambil sudut pandang dari Kerajaan Sunda lewat kisah dramatis Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa tersebut kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bekasnya masih terus mengabadi hingga kini. Sampai-sampai di Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya tidak terdapat jalan yang memakai nama Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
Cerita Perang Bubat itu ada dalam novel Dyah Pitaloka yang ditulis Hermawan pada 2005. Rupanya penulis yang juga wartawan Tribun Jabar ini tidak puas hanya sampai di perang Bubat. Ia kemudian melanjutkannya dalam novel terbarunya, Niskala dengan tambahan subjudul Gajah Mada Musuhku (kenapa juga harus ada tambahan judul ini?)
Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu baru berusia 9 tahun. Kematian ayahanda dan kakaknya semata wayang di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah menyemaikan benih dendam dalam hati bocah kecil itu yang tujuh tahun kemudian bertekad membalaskannya.
Maka, Niskala yang memiliki nama kecil Anggalarang itu pun berangkatlah menuju Majapahit guna menantang duel sang mahapatih perkasa Gajah Mada. Kisah selama perjalanannya inilah yang dituturkan bagai cerita silat oleh Hermawan yang sangat terkesan pada kisah Panji Tengkorak (Hans Jaladara) serta Nagasasra dan Sabuk Inten (S.H. Mintardja). Sebenarnya menarik andai saja Hermawan bisa menghindar dari pengulangan-pengulangan adegan perkelahian yang terasa monoton.
Jika mesti membandingkan dengan novel pertamanya, saya lebih suka yang pertama. Pada Dyah Pitaloka selain unsur sejarahnya lebih pekat, juga gagasan yang disampaikannya lebih dalam : mendekonstruksi citra Gajah Mada yang selama ini kondang sebagai figur pahlawan dalam novel tersebut berbalik menjadi si biang keladi yang culas. Sementara itu, Niskala hanya bertumpu pada upaya pembalasan dendam.
Jelas novel Niskala ini lebih banyak kandungan fiksinya ketimbang fakta sejarahnya. Maka, kelirulah kalau kita menjadikannya sebagai acuan sejarah, karena meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang bersangkutan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi itu, akhirnya hanya sebagai "tempelan" saja demi memperkuat lakon. Namun, itu toh sah-sah saja dalam sebuah karya fiksi, bukan?***(Sumber:BlogPerca)
Dilarang terbit oleh rezim Orde Baru. PENGHARGAAN: The Age Book of the Year Award National Book Council Award for Australian Literature
***
Di sini … di kota asing yang temaram bernama Jakarta ini, tempat campuran kebencian dan bahaya senantiasa terendus, seperti bau rokok kretek, terjebak Guy Hamilton, seorang jurnalis Barat, Billy Kwan, juru kameranya yang berkebangsaan Cina-Australia bertubuh kate, dan Jill Bryant, perempuan asal Inggris yang sama-sama mereka cintai.
Tahun 1965, sebuah masa yang dikenal sebagai “Vivere Pericoloso—Hidup Penuh Bahaya”, yang membelokkan arah hidup bangsa Indonesia.. Pemerintahan nasionalistik Sukarno membawa Indonesia ke tengah ketidakpastian. Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang lemah, Presiden menghabiskan uang untuk membangun monumen-monumen megah, sementara menyulut api kebencian terhadap Barat dan mengobarkan semangat konfrontasi dengan Malaysia: Ganyang Malaysia!
Sementara itu, di sebuah sudut Hotel Indonesia bernama Bar Wayang yang sejuk dan nyaman, sekelompok pemburu berita dari negara-negara yang disebut imperialis oleh Sukarno saling bertukar cerita. Mereka juga berbagi pendapat tentang kondisi Indonesia terkini saat itu. Bisa dibilang nasib mereka di Indonesia secara tak langsung berada di tangan Sukarno yang sering mereka gunjingkan di Wayang.
Inilah sebuah drama penuh liku tentang kesetiaan dan pengkhianatan. Selain itu, novel ini membeberkan berbagai peristiwa politik sepanjang tahun penuh pergolakan sampai akhirnya Sukarno digulingkan oleh Suharto setelah Gerakan 30 September PKI.
***
“Novel terbaik tentang Indonesia” —www.amazon.com
“Penting dibaca generasi masa kini” —The Jakarta Post
“Novel yang Indah” —The Sidney Morning Herald
“Cerdas, menyentuh, meyakinkan” —Anthony Burgess penulis novel kontroversial A Clockwork Orange
“Profan dan indah.” —Les Murray, The Sidney Morning Herald
“Karya fiksi yang disajikan dengan matang dan bernas, dipersiapkan dengan baik dan dituliskan dengan indah.” —Larry McMurtry, penulis pemenang Booker Prize dan Academy AwarD
Judul The Year of Living Dangerously : Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965 No. ISBN 9789790241770 Penulis Christopher J. Koch Penerbit Serambi Tanggal terbit Oktober – 2009 Jumlah Halaman 403 Berat Buku - Jenis Cover Soft Cover Dimensi(L x P) 130x205mm Kategori Romance
Mengangkat kembali peristiwa Perang Bubat itu dalam jalinan kisah yang memukau, filmis, dan asyik. --Maman S.Mahayana (Kritikus Sastra, Pengajar FIB-UI).
Perang Bubat adalah peristiwa sejarah yang menjadi kontroversi di antara budaya Sunda dan Jawa, dan melahirkan berbagai prasangka di antara keduanya.
Mengapa rombongan Kerajaan Sunda yang datang ke Bubat, Majapahit, untuk mengantar Putri Dyah Pitaloka menjadi istri Prabu Hayam Wuruk, diserang pasukan Majapahit yang bersenjata lengkap? Peran Mahapatih Gajah Mada dalam tragedi itu juga menjadi bahan perdebatan. Apakah insiden itu disebabkan ambisinya untuk menyempurnakan Sumpah Palapa dengan menaklukkan Sunda? Ataukah ia sebenarnya hanya dikambinghitamkan oleh orang-orang yang dengki atas ketenarannya? Benarkah sesungguhnya di antara Dyah Pitaloka dan Gajah Mada pernah terjalin hubungan asmara?
Berbagai sumber sejarah memberikan versi yang berbeda tentang kejadian tersebut. Penulis novel Perang Bubat ini, seorang pemerhati sejarah Sunda, menggali sumber-sumber sastra lisan yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Bandung selatan, Garut, Lawang Sumber di tepian Kota Surabaya, hingga ke Bubat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Hasilnya adalah kisah Perang Bubat yang sangat berbeda dari versi yang selama ini kita ketahui dari sejarah resmi.
Inilah kisah Perang Bubat yang sangat berbeda dari versi yang selama ini kita ketahui dari sejarah resmi.
Kepiawaian Tung Desem Waringin dalam dunia marketing tak diragukan lagi, dia merupakan salah satu motivator sekaligus marketer papan atas di kawasan Asia Tenggara yang banyak menelurkan ide-ide dahsyat. Penjualan bukunya yang berjudul Marketing Revolution pun menjadi best seller dan memecahkan rekor MURI dalam penjualan buku terlaris pada launching perdana.Dalam bukunya ini, Tung memberikan ilmunya mengenai sikap dan paradigma para milliarder dalam menjalankan bisnis. Salah satu hal yang terpenting agar produk yang akan dijual dapat bersaing adalah dengan memberikan Value added (nilai tambah)baik terhadap produk itu sendiri maupun dari segi layanan (service). Disamping itu, efek multiplier juga perlu diperhatikan. Promosi yang baik adalah promosi mouth to mouth, yaitu bentuk promosi gratis yang merupakan efek dari kepuasan pelanggan terhadap produk yang dibeli.
Salafi DB versi 4.0, merupakan aplikasi kajian islam digital yang mencakup beragam tafsir Al Qur'an, Haditst Shahih, artikel dan ebook Islam terlengkap yang pernah ada dalam bahasa Indonesia dan tentunya software ini gratis untuk tujuan dakwah.Salafi DB 4.0 menyertakan tafsir Ibnu Katsir yang populer menjadi rujukan di berbagai universitas Islam di dunia, menghimpun hadits-hadits shahibul Bukhari dan Muslim, Al Arba'un An Nawawiyyah dan Riyadhus Shalihin sebagai kitab rujukan yang sangat direkomendasikan agar terhindar dari propaganda doktrin bid'ah dan beragam kesyirikan yang sering kali dikemas dalam diksi 'bernuansa' Islam.
Salafi DB 4.0 juga mencakup artikel dan ebook-ebook menarik yang membahas masalah-masalah Islam kontemporer seperti bentuk-bentuk penyimpangan dalam ajaran Tasawuf ( Sufi ), hukum tawassul, syafa'at, istighatsah, haramnya beribadah di kuburan wali (membaca Al Qur'an, dzikir ), dzikir berjama'ah, dsb.
Fitur-Fitur yang Disediakan
Tidak perlu koneksi Internet (indeks disimpan di hardisk anda).
Telusur Al-Qur'an, Hadits dan artikel terpadu.
Hasil telusur diurut berdasarkan skor kedekatan (mirip Google).
Telusur Al-Qur'an dengan transliterasi.
Tayangan visual hubungan antar dokumen.
Analisa secara tata-bahasa ayat-ayat Al-Qur'an.
Editor cetak
Jelajah (browse) seluruh isi dokumen (mirip tampilan e-book)
Preferensi tema tampilan tema.
Index dan tema update.rjem
Dengan aplikasi Salafi DB 4.0, anda serasa memiliki perpustakaan lengkap yang tak kalah kualitasnya dengan buku-buku Islam koleksi kampus/ponpes ternama dan tentunya hal ini akan mempermudah bagi umat Islam yang ingin mempelajari Islam secara kaffah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Ebook 17 Hari Menuju Kebebasan Financial ini adalah ringkasan dari Inti Buku Unlimited Walth : 17 Hari Menuju Kebebasan Financial yang ditulis oleh Bong Chandra, seorang Motivator termuda di Asia dan juga penulis Ebook Buku The Science of Luck (terbit tanggal 14 mei 2011).
Sama seperti buku Unlimited Wealth Full Version, dalam Ebook ringkasan Unlimited Wealth ini kita juga akan belajar cara melatih Mindset dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menjadi kaya. Berikut ini adalah beberapa bagian dari isi ringkasan Ebook Unlimited Wealth :
Berpikir untuk diri sendiri adalah awal kemiskinan
17 Hari Menuju Kebebasan Financial : Untuk sukses, Anda harus membantu orang lain sukses. Bantulah orang lain dengan memberi solusi. Contoh: Dalam setiap seminarnya yang dihadiri ribuan orang, Bong Chandra menawarkan stand gratis untuk marketing dari Agung Podomoro. Mereka dapat memamerkan properti yang dijual. Hal ini berlangsung terus menerus, dan dalam suatu seminar besar – Bong Chandra mengundang Direktur Pemasaran Agung Podomoro untuk ikut menjadi pembicara. Karena sudah banyak dibantu, sang Direktur Pemasaran bersedia membantu. Nama beliau dipromosikan, dan otomatis nilai seminar tersebut menjadi semakin meningkat.
17 Hari Menuju Kebebasan Financial : Jika Anda pernah mendengar istilah “Take and Give”, orang sukses selalu mulai dengan Give, Give and Give. Anda bisa Give dalam bentuk waktu, pikiran, ide dsb. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang membantu orang lain sukses. Giving is Rich. Bantulah orang lain melalui talenta Anda.
17 Hari Menuju Kebebasan Financial : Acara reality show seperti Indonesian Idol dan The Apprentice bisa menjadi sukses, karena acara ini “menjual mimpi”. Orang yang tadinya “nothing” bisa menjadi “something” atau bahkan “Hero”.
Bahasa : Indonesia Penulis : Robert T. Kiyosaki Jumlah Halaman : 151 Format Ebook : PDF Perekomendasi : Admin
Bagi anda yang sudah mengenal Robert T. Kiyosaki penulis buku laris pasti tahu buku -buku apa saja yang sudah diterbitkan nya, buku ini mengandung Delapan Nilai Tersembunyi dari Bisnis Pemasaran Jaringan Selain Memperoleh Uang.
Di ebook karangan Robert T. Kiyosaki ini anda akan diajarkan bagaimana mencari Sekolah bisnis nyata yang memang mengajarkan kita sebagai seorang pebisnis atau cuma mengajarkan kita dalam menjual produk saja, karena isi bahasan dari ebook ini memang sangat bagus untuk kita ketahui dan sebagai pembelajaran diri kita semua.
Ebook yang berjudul Retire Young Retire Rich ini merupakan salah satu ebook karangan dari Robert T. Kiyosaki. Motifator dibidang bisnis dan investasi yang tidak asing lagi bagi saya dan anda kecuali anda memang tinggal dibulan sehingga tidak pernah tau siapa Robert T. Kiyosaki ini, he.. he.. he..
Retire Young Retire Rich merupakan bacaan wajib bagi siapa saja yang menginginkan kebebasan finansial, tidak terkecuali siapa anda dan dari mana anda berasal.
Materi yang terkandung di dalam ebook karangan Robert T. Kiyosaki ini sangatlah bagus untuk membasuh jiwa dan pikiran kita dari pola hidup yang konsumtif menjadi pola hidup yang produktif, karena itulah kunci yang terkandung dalam ebook Retire Young Retire Rich ini setelah saya membacanya, dan saya juga berharap anda mau membacanya.
Mari kita semua sama - sama belajar dan mempraktekkan apa yang terkandung dalam isi ebook ini. Salam Sukses......
Judul : Wealth Strategy ala Kiyosaki Bahasa : Indonesia By : Budi Rachmad Compiled by : Denny R. Ardiansyah Jumlah Halaman : 58 Format Ebook : PDF Perekomendasi : Admin
Ebook yang berjudul Wealth Strategy ala Kiyosaki ini bersumber dari ebook karangan Robert T. Kiyosaki, sengaja dibuat untuk anda berdasarkan pengalaman nyata dengan menjalankan prinsip - prinsip sebagai seorangBusinesman atau Investor :
1.Memiliki tujuan ber-investasi, yaitu F/F = 3PI > Expenses. 2.Melek Finansial. Pemahaman yang benar mengenai aset dan liabiliti dan pentingnya Cashflow (daripada capital gain) 3.Tim and Risk Managemen, yaitu kuadran E, S, B, I serta Active dan Passive Income. 4.Strategy ber-investasi, yaitu 3 kendaraan ber-investasi.
Semua keterangan yang telah saya sebutkan diatas adalah sebagian dari prinsip - prinsip yang telah diajarkan oleh Robert T. Kiyosaki, untuk lebih jelasnya saya sarankan kepada anda untuk membaca ebook ini dan menerapkannya dalam kehidupan kita semua.
1 (Satu) lagi ebook karangan Robert T. Kiyosaki yang berjudul THE CAHSFLOW QUADRANT. Untuk sementara jadilah gelas yang kosong...... agar informasi (AIR) yang ada di dalam buku ini bisa anda cerna untuk diterima atau ditumpahkan (DIBUANG).... Tapi jika sikap anda sebaliknya, seperti gelas penuh (MERASA SUDAH MENGERTI), maka anda tidak menemukan informasi berharga untuk diri Anda....
Ebook karangan Robert T. Kiyosaki yang akan saya share kepada anda sekarang adalah suatu rangkuman dari ebook Cashflow Quadrant, secara garis besar ebook ini ditulis bagi anda yang sudah sampai dipersimpangan finansial. Jika ingin memegang kendali atas apa yang anda lakukan hari ini untuk mengubah masa depan finansial anda, anda sebaiknya memetakan langkah anda.
INGIN JADI APA ANDA KALAU SUDAH BESAR ?
Dalam Ebook ini juga diceritakan tentang kehidupan Robert T. Kiyosaki yang diasuh oleh dua orang ayah dalam hal uang dan pilihan hidup. Yang satu berpendidikan tinggi dan yang lain dropout SMU. Yang satu miskin dan yang lain kaya.
Setiap kali mendapat pertanyaan "kau mau jadi apa kalau sudah besar ?"
SARAN AYAH MISKIN.... Ayah yang berpendidikan tinggi tapi miskin selalu menyarankan "Sekolah dapat nilai bagus dan lalu cari pekerjaan dengan bayaran tinggi seperti dokter, pengacara dll, yang mementingkan slip gaji teratur, tunjangan & keamanan pekerjaan seperti gambar di kuadron sebelah kiri."
SARAN AYAH KAYA.... Ayah yang dropout SMU tapi kaya selalu mengajarkan "Sekolah lulus, bangun usaha, dan jadilah penanam modal yang berhasil seperti gambar di kuadron sebelah kanan."
Inilah ebook usaha dan bisnis menakjubkan yang wajib anda baca, yang disampaikan dengan apik dan menghibur. Terlebih, inilah terobosan besar dalam pemikiran yang bisa memacu kreativitas siapa pun yang mau meluangkan waktu untuk membaca dan belajar darinya........
Judul : The Medici Effect Bahasa : Indonesia Penulis : Frans Johansson Jumlah Halaman : 308 Format Ebook : exe Perekomendasi : Admin
Inilah Ebook paling mencerahkan tentang mengelola inovasi yang pernah ada. Penegasannya bahwa pemikiran - pemikiran terobosan terjadi pada titik -titik temu baru adalah sebuah prinsip kreativitas yang kekal, yang dapat menuntun para inovator di bidang apapun.
Ebook Usaha dan Bisnis yang berjudul BLUE OCEAN STRATEGY ini merupakan Best Seller. Jika Anda telah puas dengan kondisi bisnis Anda yang sekadar bisa bertahan hidup, jangan membaca ebook ini. Namun jika Anda ingin melakukan perubahan, menciptakan sebuah perusahaan bermasa depan menguntungkan bagi pelanggan, karyawan, pemegang saham dan masyarakat maka bacalah ebook ini.
Sejak dulu perusahaan-perusahaan terlibat dalam kompetisi langsung satu sama lain demi mengejar pertumbuhan yang langgeng dan menguntungkan. Mereka bertarung demi keunggulan kompetitif, berebut pangsa pasar, dan berjuang menciptakan diferensiasi. Padahal dalam industri-industri yang padat penghuni dewasa ini, berkompetisi langsung tak lain hanya menghasilkan "Samudra Merah" berdarah-darah dari perebutan para rival atas genangan laba yang menyusut.
Ebook berkerangka perubahan ini menantang perusahaan besar maupun kecil, pemula maupun papan atas, publik maupun privat, berteknologi tinggi maupun rendah untuk keluar dari status quo, menciptakan strategi masa depan yang gemilang, dan menerapkan penjauhan diri dari kompetisi dengan biaya rendah. Ia menekankan penciptaan ruang pasar yang belum ada pesaingnya, fokus pada penumbuhan permintaan dan gerak menjauh dari kompetisi, serta upaya memaksimalkan kesempatan sekaligus meminimalkan risiko.
Bisnis dalam sistem kapitalis yang mengungkung kita saat ini meminggirkan peran penting nilai-nilai spiritual. Sebagian besar pelaku bisnis tidak mengacuhkan spiritualitas dalam perjuangan menggapai kesuksesan bisnis. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap nilai-nilai spiritual sebagai penghambat karena kapitalisme haruslah "bebas-nilai."
Download Gratis Buku Spiritual Capital Paradigma ini tentu saja tidak akan menumbuhkan spiritualitas, bahkan akan mematikannya. Hasilnya adalah para praktisi bisnis yang tumpul-spiritual dan sistem yang hanya berorientasi-laba. Sistem yang muncul dari paradigma ini terbukti menimbulkan dampak-dampak negatif pada berbagai bidang kehidupan, seperti lingkungan, budaya, politik, dan sosial. Bahkan, sifat sistem itu pun mengancam kelangsungan hidupnya sendiri. Pola pikir dan praktik kapitalisme yang didesain pada abad ke-18 ini akan menghancurkan kita pada abad ke-21.
Ketika Alex Payton menemukan kode aneh di komputer bank tempat dia bekerja, tak sekali pun ia menduga bahwa itu adalah awal dari petualangannya menjelajahi berbagai tempat di Eropa dan Amerika dalam waktu kurang lebih seminggu demi mengungkap sebuah kebenaran.
Sebuah rekening perwalian bernilai ratusan juta dolar menunggu diklaim oleh pemilik sesungguhnya, dan Alex harus menemukan sang pemilik atau ahli warisnya awalnya demi menyelamatkan pekerjaannya, lalu demi menyelamatkan nyawanya ... meski saat melakukannya, tanpa sadar dia mempertaruhkan keselamatan banyak orang yang dikasihinya ...
Sembari mengikuti petualangan perempuan pemberani ini, dunia perbankan Swiss ikut terpapar secara gamblang: apa sebenarnya yang menarik banyak orang dari berbagai negara untuk membuka rekening di Swiss, seperti apa sesungguhnya kerahasiaan Bank Swiss, dan bagaimana tindak pencucian uang kerap dikaitkan dengannya.
Buku Zaman Edan Indonesia diambang Kekacauan penuh fakta mengejutkan ini menuturkan kisah reportase wartawan terkemuka Richard Lloyd Parry di Indonesia antara 1996-1999. Dia meliput dari dekat dan mengalami langsung peristiwa pembantaian etnis dan kanibalisme di Kalimantan pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan massal di Jakarta 1998, serta pembumihangusan Timor Timur oleh milisi dan tentara Indonesia menyusul jajak pendapat yang mengantarkan kemerdekaan negara itu pada 1999.
Ditulis dengan lancar, akrab, dan enak dibaca, buku Zaman Edan Indonesia diambang Kekacauan membuka mata kita akan segala peristiwa kelam di negeri ini yang kerap ditutup-tutupi, sekaligus mengajak kita merenungkan kembali makna reformasi setelah 10 tahun rezim Orde Baru tumbang dan memaknai momen 100 tahun kebangkitan nasional.
Akhirnya, Download secara gratis ebook Gurita Cikeas bisa dilakukan disini. Buku Gurita Cikeas Full Version ini terdiri dari 183 halaman, anda dapat mendownload secara gratis ebook Gurita Cikeas melalui link download dibawah ini. Setelah sebelumnya kami telah menyediakan ebook Gurita Cikeas secara gratis namun bukan full version, tapi kali ini kami menyediakan secara gratis ebook Gurita Cikeas disini. Buku yang begitu fenomenal dikalangan masyarakat ini Gurita Cikeas memang buku yang dicari-dicari selama ini.
Buku “Membongkar Gurita Cikeas” karanganGeorge Junus Aditjondro punya sensasi tersendiri bagi masyarakat, terbukti banyaknya permintaan pasar yang membludak, sehingga banyak penerbit yang menerbitkan ulang, sehingga melebihi rencana stok yang tersedia.
Dalih mengganggu ketertiban umum atau menyinggung suku agama dan ras, biasa dipakai pemerintah memberangus buku. Pada kenyataannya, buku-buku yang dibreidel tersebut adalah yang membikin kuping penguasa merah atau semata tak sejalan dengan ideologi yang diusung pemerintah.
Keputusan pelarangan terbit dan edar sebuah buku dibuat oleh Kejaksaan Agung berdasarkan beleid buatan 1963, Undang-Undang tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Kejaksaan memang punya kewenangan mengawasi peredaran barang cetakan.
Dalam sejarah perbukuan di tanah air, pemberangusan buku sudah terjadi sejak zaman kolonial yang berlanjut hingga era Reformasi. Berikut ini buku-buku yang masuk daftar hitam tersebut:
>
ZAMAN KOLONIAL
* Kitab Sabil Al-Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari * Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919) * Rasa Merdeka karya Mas Marco Kartodikromo (1924) * Hikayat Kadirun karya Semaun (1927)
ZAMAN ORDE LAMA (ERA PRESIDEN SOEKARNO) Ada puluhan buku yang dilarang pada masa Presiden Soekarno berkuasa. Berikut ini beberapa buku di antaranya.
* Sapta Darman karya Muhamad Yamin * Jejak Langkah karya Bakri Siregar * Saidjah dan Adinda karya Multatuli, yang disadur oleh Bakri Siregar * Hoakiau di Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer
ZAMAN ORDE BARU (ERA PRESIDEN SOEHARTO)
Pemberangusan buku paling banyak terjadi di era Presiden Soeharto. Yang menjadi sasaran terutama buku karya Pramoedya Ananta Toer. Penulis ini dituduh Kejaksaan Agung menyebarkan komunisme dan marxisme. Mesi tuduhan tak terbukti, buku-buku Pram tetap dibredel.
Buku Pram yang dibredel: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Arus Balik, Di Tepi Kali Bekasi, Perburuan, Keluarga Gerilya, Percikan Revolusi, Bukan Pasar Malam, Mereka yang Dilumpuhkan, Cerita dari Blora, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan Cerita dari Jakarta.
Buku-buku lain yang bernasib sama dengan karya-karya Pram:
* Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia, KM ITB 1979, karena dinilai menyudutkan pemerintah. * Di bawah Bendera Revolusi * Sum Kuning, terkait dengan kasus pemerkosaan penjual telur * Indonesia di Bawah Sepatu Lars, karya Sukmadji I Tjahjojo * Menuntut Janji Orde Baru * Adik Baru, Cara Menjelaskan Seks kepada Anak * Bertarung demi Demokrasi * Kasih yang Menyelamatkan * Dosa dan Penebusan Menurut Islam dan Kristen * Serat Darmogandul, karya Ronggowarsito, terkait dengan SARA * Suluk Gatoloco, karya Ronggowarsito, terkait dengan SARA dan menyesatkan * Cina, Jawa, Madura, Dalam Konteks Hari, penulis Chosni Herlingga * Resume Hasil Observasi Peradilan Kasus Aceh, penulis A.H. Garuda Nusantara * Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, penulis Joebaar Ajoeb * Madame Syuga. Buku ini dianggap mengeksploitasi tubuh Dewi Soekarno secara gamblang. * Program Kerja Kristenisasi di Indonesia * Sajian Tuntunan Tuhan pada Jaman Akhir, karya Haswir/Suharno * Painting in Islam, SARA (dinilai melecehkan Islam) * Kristus dalam Injil dan Al-Quran, terkait dengan SARA * Mujarobat Ampuh, H M. Qori, terkait dengan SARA * Menyingkap Sosok Misionaris, penulis Ibrahim Sulaiman al-Jabhani, terkait dengan SARA * Primadosa, dan Rakyat Indonesia Mengingat Imperium Suharto * Apakah Soeharto Terlibat Peristiwa PKI, dinilai menghina presiden * Bayang-bayang PKI, diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI), terkait dengan komunis * Islamic Invasion, karya Robert Morey * Peristiwa 27 Juli, diterbitkan oleh ISAI
ERA REFORMASI
Menginjak era reformasi, pelarangan buku tak juga surut. Berikut ini buku yang dilarang edar oleh kejaksaan:
* Atlas West Irian, dilarang karena memuat gambar Bintang Kejora * Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al-Qur`an, karya M. Simanungkalit, dilarang karena dianggap mengganggu ketertiban masyarakat * Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat, Socratez Sofyan Yoman * Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, karya John Roosa * Suara Gereja bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah, dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri, karya Socratez Sofyan Yoman * Lekra Tak Membakar Buku, karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan * Enam Jalan Menuju Tuhan, karya Darmawan
*Disarikan dari tulisan Erwin Dariyanto di Koran Tempo Minggu edisi 3 Januari 2010.
“Ngapain sekolah tinggi kalo toh akhirnya nganggur juga?” Kamu pasti sering denger celoteh tetangga, sodara, temen, atau ortu bilang gitu. Kamu juga tahu, kuliah nggak ngejamin masa depanmu cerah. Karena begitu kamu lulus, belum tentu langsung ngantor dengan salary dan fasilitas yang oke.
Nggak... nggak semudah itu, Man! Yang ada, begitu lulus, kamu malah jadi beban negara dengan bertambahnya pengangguran intelektual. Apalagi, kalo kamu kuliahnya ngasal. Jangan mimpi deh. Kamu ngeraih apa yang kamu mau! Ubahlah cara pandangmu terhadap kuliah.
Rombaklah gaya belajarmu biar kamu nggak sekadar ngampus. Pokoknya, kamu bakal tahu kalo kuliah itu masa pembelajaran hidup dan masa depan. So, kuliah Nggak Sekadar Ngampus kan?!
Judul : Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal Pengarang : Adian Husaini Penerbit : Gema Insani Kota Terbit : Jakarta Tahun Terbit : 2005 Cetakan : Pertama Tebal Buku : 415 halaman Tema : Sejarah Ideologi Resensator : Nur Fadlan
Kekerasan politik adalah sebab dari lahirnya sebuah ideologi. Gereja menjadi pusat perhatian utama dalam kajian Peradaban Barat. Hegemoni yang pernah dilakukan oleh Gereja sempat menggores hampir semua dataran Eropa dan menjarah ke sekian bagian di daratan di dunia. Hegemoni ini pernah menjadi masa yang paling menakutkan dalam perjalanan sejarah Eropa. Dalam beberapa peristiwa sejarah, Inquisisi misalnya; pernah menjadi terminologi menakutkan bagi bangsa Eropa saat mereka terbayangi oleh siksaan yang begitu kejam dan dalam waktu yang lama. Dalam beberapa catatan Lewis, sejarah Kekristenan pada dasarnya diwarnai dengan perpecahan (skisma) dan kekafiran (heresy). Hal ini, dapat disaksikan dalam konflik besar yang terjadi pada Gereja Konstantinopel, Antioch dan Alexandria. Sejarah juga mencatat konflik yang terjadi antara Konstantinopel dengan Roma antara Katholik dan Protestan serta antara berbagai sekte dalam Kristen.
Dalam perjalanan Western Civilization, Barat pernah melewati fase the dark ages. Fase ini dimulai sejak Imperium Romawi Barat runtuh pada tahun 476 M hingga pada akhirnya Gereja muncul menjadi institusi yang dominan di Eropa. Sebelumnya, Kristen mengalami penindasan yang panjang dari Imperium Romawi, hingga pada akhirnya Kristen mendapat sambutan hangat dari Kaisar Konstantine pada tahun 313 M dengan dikeluarkannya Edict of Milan. Dahsyatnya lagi, kesuksesan Kristen mendapat apresiasi yang sangat luar biasa, sehingga pada tahun 392 M dikeluarkanlah Edict of Theodosius, yaitu Kristen sebagai state religion dari Roman Empire.
Pada waktu itu Gereja merupakan satu-satunya institusi yang memberikan alternatif konstuksi kehidupan. Hingga akhirnya, sambutan masyarakat terhadap Kristen potitif dan pengaruh Kristen menyebar pesat, membentang dari Italia sampai Irlandia.
Di samping kesuksesan dalam menarik simpati masyarakat, Kristen juga menggunakan adopsi tata administrasi seperti yang dilakukan oleh Romawi. Seperti yang pernah disuarakan Paus Gregory I (590-604) M. Beliau menganjurkan dan menggunakan metode administrasi Romawi untuk mengelola kekayaan Gereja di Itali, Sicilia, Sardinia, Gaul. Tidak hanya berhenti sampai disitu, pihak Gereja pun mengirimkan misionaris ke Inggris untuk melakukan Anglo Saxons serta menjalin aliansi dengan Pippin raja Prancis. Tahun 1077 M Raja Henry IV takluk kepada Paus Gregory VII dengan awal masalah pengangkatan Paus. Dari sini pengaruh Paus semakin menguat apalagi tahun 1091 M. Aksi yang dilakukan oleh Gereja ternyata juga membuka citra keperkasaan Kristen. Misalnya, Count Roger berhasil merebut Sicily yang sebelumnya dikuasai oleh kaum Muslim. Dan juga pada tahun 1085 M, Kristen Spanyol membantu tentara Perancis dalam mempertahankan Toledo.Adian Husaini membuat tiga klasifikasi besar dalam penyusunan buku ini. Klasifikasi pertama, Adian mewacanakan dan melengkapi sintesisnya dengan beberapa data penunjang. Dalam klasifikasi ini, problematika Peradaban Barat dikaji secara mendalam dengan pendekatan historis-analisis. Barat dianggap olehnya sebagai peradaban yang tidak memiliki cita-cita panjang. Globalisasi dan Westernisasi dianggap sebagai kebingungan ideologi. Ideologi yang tidak jelas. Beliau pun mengidentifikasi mengapa Barat menjadi Sekuler-Liberat? Disini, tepatnya di bab I sub bab II oleh Adian ada beberapa hal yang melatar belakangi kenapa wordview Sekuler-Liberal dipilih menjadi jalan hidup. Beliau menyebutkan tiga sebab kenapa Barat menjadi Sekuler-Liberal. Oleh Adian disebutkan, pertama, problem Sejarah Kristen. Sub bab ini, dibahas panjang lebar tentang catatan buruk Kristen dalam perjalanan sejarah hegemoninya. Yang kedua, Problem Teks Bible. Adian menjelaskan sangat gamblang betapa bermasalahnya Teks yang mereka anggap sebagai kitab suci mengalami perbedaan versi yang begitu beragam. Akibatnya corak intepretasi yang dimiliki oleh Kristian begitu berbeda-beda. Yang ketiga, Problem Teologi Kristen. Di sini, dianggap sebagai salah satu muara kenapa ideologi Sekuler-Liberal dipilih Barat sebagai pandangan hidup. Pandangan Lewis dan Leeuwen merupakan babak baru dimana pemisahan antara otoritas Gereja dengan kerajaan. Di samping itu juga, oleh Chadwick bahwa liberal adalah free from restraint, the liberal state, must be the secular state.
Dalam bab ke dua, seorang Adian mencoba meraba-raba perspektif Islam dalam melihat keadaan Peradaban Barat. Tokoh-tokoh pengusung dan penyebar ideologi Barat dikaji secara mendalam dengan harapan menawarkan wordview versi Islam. Ada beberapa ketidak beresan dalam konsep-konsep Bernard Lewis, ini di telusuri Adian dan dicarikan titik temunya. Tidak hanya itu, seorang Adian juga mencoba mengangkat ke permukaan lagi beberapa cetak biru stigma Eropa atas Islam. Misalnya, tentang Islam dianggap mitologi, Islamofobia, Terorisme, Fundamentalisme serta Islam-Barat: A Permanent Confrontation. Di sini penulis buku mencoba mencari titik terang. Apa sebenarnya maksud dari terminologi itu?
Dalam dua bab awal, Adian sangat luar biasa dalam penyelaman terhadap beberapa roblematika Peradaban Barat. Dan bisa dikatakan buku yang berjudul Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, layak menjadi cermin dalam melihat keadaan Peradaban Barat. Tidak hanya itu, buku ini patut juga untuk menjadi referensi akademis karena pada hakikatnya kebanyakan data yang di tulis Adian Husaini tersusun secara sintematis-ilmiah. Menggunakan sekian literatus primer dan sekunder untuk memetakan Peradaban Barat. Ini sangat menarik karena seorang Adian mencoba mengelola sekian data sejarah menjadi data yang ia butuhkan dan memperkuat sintesisnya, setelah melewati proses tesis dan antitesis.
Akan tetapi, bab ketiga seorang Adian mencoba menggunakan analisis-exsploratif setelah membahas panjang lebar tentang keadaan sebenarnya Peradaban Barat yang sangat kering dari spiritual. Hal ini, yang mengakibatkan buku ini terkesan terlalu panas untuk dimasuki pelaku Peradaban Barat. Misalnya, Adian secara frontal menjelaskan beberapa studi kasus yang dianggap gagal dalam tata peradaban. Pertama, Eksperimen Sekulerisme: Kasus Turki. Hal ni seharusnya tidak perlu penyebutan secara mendalam. Karena beberapa dekade terakhir sosok konseptor tata politik Islam Pakistan, Sir Muhamad Iqbal dan Abu Ala al-Maududi mengisukan Islamisasi dan sampai sekarang ideologi Pakistan masih Sekuler. Mungkin kita sepakat, bahwa Islam itu bukan brand (merek), Islam adalah tata nilai yang bisa masuk dalam setiap lini kehidupan. Sehingga ketika Adian menyebutkan “Eksperimen Sekulerisme: Kasus Turki”, ini terlalu frontal. Kalau kita bisa melakukan pendekatan secara lembut dan halus kenapa harus memilih yang frontal. Di titik ini, Adian kurang signifikan.
Yang kedua, Invasi Barat dalam Pemikiran: Hermeneutika dan Studi Al-Qur’an. Terma Hemeneutika dikatakan Adian bukan dari tradisi Islam mungkin sebagian besar dari muslimin sepakat. Akan tetapi, pengambilan sampel Nasr Hamid Abu Zayd yang mengatakan Al-Qur’an sebagai produk budaya tidak perlu dibunuh dalam kekalahan dialektika. Adian Husaini seharusnya mengunakan pendekatan komparatif-eksploratif-non skeptis. Dengan harapan sosok Nasr Hamid bu Zayd beserta proyek pemikirannya berbenturan dengan sekian banyak konsepsi yang sudah ada sejak dulu. Kalau konsep Nasr Hamid Abu Zayd itu lemah, tidak perlu menggunakan pendekatan skeptis untuk mengalahkannya. Cukup dengan komparatif-eksploratif, di sini Adian Husaini terkesan berlebihan.
Yang ketiga, Invasi Barat dalam Pemikiran Islam: Pluralisme Agama. Di sini ada beberapa simpul menarik. Karena Adian mencoba membaca lintas paradigma. Yaitu tentang defenisi Islam menurut Al-Attas dan W.C. Smith. Menariknya, dalam deskripsi Adian tentang Islam menurut Al-Attas dan W.C. Smith. Pembaca dibiarkan membaca sendiri dengan bahasa yang tidak propokatif, karena sub bab ini disampaikan dengan tidak persuasif.
Di samping itu, Adian juga menyertakan beberapa perjalanan singkat konflik Islam-Kristen yang ada di Indonesia. Ini menarik, sekedar untuk dijadikan pengingat masa lalu dan seharusnya tidak terulang lagi.
Demikianlah bebera kelebihan dan kelemahan buku Adian Husaini yang berjudul Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal. Benang merah dari buku ini sebenarnya sedikit banyak seperti statemen Muhammad Asad (Leopold Weiss). Beliau mencatat bahwa Peradaban Barat hanya mengikuti tuntutan ekonomi, social dan kebangsaan. Mereka mewarisi watak Romawi Kuno dalam berkuasa serta menawarkan konsep keadilan ala Romawi. Padahal, konsep itu hanyalah representatif untuk bangsa Romawi saja dan saat itu. Wallah a’lam bi al-showab.
Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (wasit, 131 H/748 M.-189 H/804), ahli fikih dan tokoh ketiga madzhab Hanafi yang berperan besar dalam mengembangkan dan menulis pandangan Imam Abu Hanifah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad asy-Saybani). Lahir di Wasit, Damaskus (Syuriah) dan besar di Kufah dan menimbah ilmu di Baghdad.
Pendidikannya berawal di rumah dibawah bimbingan langsung dari ayahnya, seorang ahli fikih di zamannya. Pada usia belia, asy-Syaibani telah menghafal al-Qur’an. Pada usia 19 tahun, ia belajar kepada Imam Abu Hanifah. Kemudian ia belajar kepada Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah. Dari kedua Imam inilah asy-Syaibani memahami fikih madzhab Hanafi dan tumbuh menjadi pendukung utama madhab tersebut. asy-Syaibani sendiri dikemudian hari banyak menulis pelajaran yang pernah diberikan Imam Abu Hanifah kepadanya.
Ia belajar hadits dan ilmu hadits kepada Sufyan as-Tsauri dan Abdurrrahman al-Auza’i. Di samping itu, ketika berusia 30 tahun, ia mengunjungi Madinah dan berguru kepada Imam Malik yang mempunyai latar belakang sebagai ulama ahlul hadits. Berguru kepada ulama di atas memberikan nuansa baru dalam pemikiran fikihnya. Asy-Syaibani menjadi tahu lebih banyak tentang hadits yang selama ini luput dari pengamatan Imam Abu Hanifah.
Dari keluasan pendidikannya ini, asy-Syaibani dapat membuat kombinasi antara aliran Ahlu al-Ra’yi di Irak dan ahlulhadits di Madinah. Ia tidak sepenuhnya sependapat dengan Imam Abu Hanifah yang lebih mengutamakan metodologi nalar (ra’yu). Ia juga mempertimbangkan serta mengutip hadits-hadits yang tidak dipakai Imam Abu Hanifah dalam memperkuat pendapatnya. Di Baghdad, al-Syaibani, yang berprofesi sebagai guru, banyak berjasa dalam mengembangkan fikih madzhab Hanafi. Imam al-Syafi’i sendiri sering ikut dalam majlis pengajian al-Syaibani. Hal ini ditopang pula oleh polisi pemerintah Dinasti Abbasiyah yang menjadikan Madzhab Hanafi sebagai madzhab resmi negara. Tidak mengherankan kalau Imam Abu Yusuf, yang diangkat oleh Khalifah Harun al-Rasyid untuk menjadi hakim agung (qadhi al-qudhat), mengangkat al-Syaibani sebagai hakim di al-Riqqah (Irak).
Sumbangan Karya;
Imam Abu Hanifah tidak meninggalkan karya tulis yang mengungkapkan pokok-pokok pikirannya dalam ilmu fikih. Akan tetapi pendapatnya masih bisa dilacak secara utuh, sebab muridnya berupaya untuk menyebarluaskan prinsipnya, baik secara lisan maupun tulisan. Berbagai pendapat Abu Hanifah telah dibukukan oleh muridnya, antara lain Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Beberapa karya beliu dalam intern madzhab Hanafi biasa dikelompokkan dalam rumpun kitab ”Dzahir Ar-Riwayah dan an-Nawadir . Karya beliau yang dikelompokkan dalam jajaran kitab dzahir al-riwayah adalah :
a. al-Mabsut, dalam kitab ini dimuat berbagai pendapat Imam Hanafi dalam masalah fiqih, baik yang disetujui oleh Imam As-Syaibani dan Imam Abu Yusuf, maupun yang mereka bantah.
b. al-Jami’ al-Kabir, menguraikan berbagai masalah fikih.
c. al-Ziyadat. Di susun Imam asy-Syaibani setelah al-Jami’ al-Kabir, membahas tentang persoalan-persoalan yang tidak tercakup dalam al-Jami’ al-Kabir.
d. al-Jami’ al-Shaghir, memuat empat puluh masalah fiqih ,tetapi belum sistematis. Buku ini kemudian disusun sesuai dengan bab-bab fiqh oleh Imam Abu Tahir Ad-Dibas, ulama Mazhab Hanafi abad ke-4 H.
e. al-Siyar al-Kabir, membahas permasalahan jihad dan hubungan antara muslim dan nonmuslim secara luas.
f. al-Siyar as-Shaghir, membahas masalah yang sama dengan jilid yang sebelumnya.
Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani adalah salah seorang tokoh penulis dalam hukum internasional. Dia menulis buku, al-Siyar al-Kabir, yang lebih baik dibandingkan Grocius orang Belanda yang dijuluki sebagai Bapak hukum internasional. Orang-orang yang bergelut dalam dunia hukum internasional menyadari hal ini, sehingga mereka mendirikan sebuah perkumpulan bernama “Masyarakat alSyaibani untuk hukum internasional” di Gotenghen Jerman setelah perang Dunia II. Para pakar hukum internasional dan orang-orang yang menggeluti dunia ini dari seluruh penjuru dunia berkumpul di sana untuk mengenalkan al-Syaibani, menunjukkan pendapatnya, dan menerbitkan buku-buku karangannya dalam bidang yang satu ini.Buku al-Siyar al-Kabir adalah buku karangannya yang terakhir. Pembahasannya mencakup semua hal yang berkaitan dengan peperangan dan kaitannya dengan kaum musyrikin, musuh kaum muslim, dan hukum-hukumnya. Selain itu, bukunya membahas tentang tawanan perang (laki-laki, perempuan, dan anak-anak), masuk Islamnya orang musyrik, kemanan mereka, utusan yang diutus memasuki Dar al-islam dari Dar al-harb, kuda-kuda perang yang dipakai oleh mereka, rampasan perang, perdamaian dan perjanjiannnya, tebusan dan hukum senjata, budak, tanah yang dikuasai oleh musuh di negeri musuh, orang Islam yang berada di negeri musuh, pelanggaran perjanjian, kejahatan dalam perang, dan beratus masalah yang berkaitan dengan musuh dan hubungan kaum muslimin dan mereka pada saat perang maupun damai.
Al-Syaibani bersandar sepenuhnya kepada alquran dan hadis yang meriwayatkan peperangan Rasul yang berbicara tentang peristiwa yang betul-betul terjadi, dan hukum-hukum yang terjadi pada saat terjadinya peperangan kaum Muslim dan penakluka wilayah yang mereka lakukan. Dia juga menggunakan perbandingan kepada masa-masa tertentu. Harun al-Rayid terheran-heran ketik menyimak isi buku ini dan memasukkan ke dalam daftar hal-hal yang patut dibanggakan pada masa kekhalifahannya. Perhatian terhadap buku ini juga terlihat pada masa daulah Utsmaniyah, karena buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, dan dijadikan sebagai dasar bagi hukum-hukum pejuang daulah Utsmaniyah ketika mereka berperang melawan negara-negara Eropa.
Al-Syaibani termasuk salah seorang murid Abu Hanifah yang sangat cemerlang. Dia sangat memahami fikh ahl al-ra’y (yang mengandalkan akal) di Kufah. Ketika Abu Hanifah meninggal dunia, dia pindah ke Madinah dan belajar kepada Malik dan al-Awza’i, lalu dia menguasai fikh yang mengandalkan hadis. Dia juga mempelajari sastra termasuk gramatika, bahasa dan syair, serta mempelajari ilmu agama, seperti alquran, hadis, dan fiqih. Al-Syaibani boleh dikatakan sebagai mata rantai penghubung antara mazhab Hanafi dan Syafi’i. Al-Syaibani memiliki andil yang sangat besar terhadap penerbitan mazhab Abu Hanifah (yang tidak meninggalkan satu karangan pun kepada kita), yang dia susun dalam berbagai kitab, antara lain: al-Mabsuth, al-Ziyadat, al-Jami’, al-Shaghir, al-Kabir, al-Siyar al-Shaghir, dan al-Siyar al-Kabir.
Al-Syaibani mempelajari fiqkh Abu Hanifah dari dua segi. Pertama, dia belajar dari mazhab Hanafi menurut apa yang dia dengar dari para ahli hadis dan fukaha di Madinah. Kedua, dia belajar dari pemilahan masalah-masalah ushul fiqih. Pada zamannya dia dikenal sebagai orang yang ahli dalam hitungan yang sangat diperlukan dalam melakukan pembagian warisan, dan lain sebagainya.
Berkat dua karyanya ini (As-Siyar al-Shaghir dan as-Siyar al-Kabir), asy-Syaibani dikenal sebagai tokoh peletak dasar hukum internasional dalam Islam. asy-Syaibani adalah orang pertama yang menulis masalah hukum internasional dalam sebuah studi sistematis.
Keenam bagian ini ditemukan secara utuh dalam kitab al-Kafi yang disusun oleh Abi al-Fadl Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi (w. 344 H.). (w.334 H/945). Dalam al-Kafi, persoalan-persoalan yang berulang dalam enam bagian Zahir ar-Riwayah dihapuskan. Kemudian pada abad ke-5 H. muncul Imam as-Sarakhsi (w. 483 H/1090 M) yang mensyarah al-Kafi tersebut dan diberi judul al-Mabsuth.
Buku ini disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dan lugas, dibarengi dengan berbagai alasan. Disamping itu, dalam pembahasannya di setiap bab dikemukakan juga pendapat madzhab lain dengan alasan-alasannya, kemudian di kemukakan keunggulan pendapat Madzhab Hanafi. Al-Mabsut inilah yang dianggap sebagai kitab induk dalam Mazhab Hanafi.
Sedangkan beberapa kitab beliau yang termasuk dalam keluarga kitab An-Nawadir adalah al-Haruniyyah, al-Kasaniyyah, al-Jurjaniyyah, dan ar-Raqiyyah (kompilasi keputusan terhadap berbagai masalah yang dihadapinya ketika menjadi hakim di ar-Riqah).
Karya lain beliau adalah :
1. al-Makharij fi al-Khiyal (tentang khiyal dan jalan keluarnya);
2. ar-Radd ‘ala Ahl al-Madinah (penolakan terhadap pandangan orang-orang Madinah). Versi kitab Al-‘Ibar Fi Khabari Man Ghabar, nama kitab ini adalah Al-Hujjah ’Ala Ahl al-Madinah;
3. al-Atsar. Kitab ini melahirkan polemik tentang hak-hak non muslim di negara Islam dan ditanggapi oleh Imam Syafi’i. dalam kitabnya, al-Umm, Imam Syafi’I menulis bantahan dan kritik secara khusus terhadap asy-Syaibani dengan judul ar-Radd ‘ala Muhammad bin Hasan (bantahan terhadap pendapat Muhamad bin Hasan asy-Syaibani;
4. al-Amali;
Dalam Ensiklopedi Hukum Islam, keempat kitab ini dimasukkan dalam rumpun kitab al- Nawadir.
1. al-Ashl;
2. al-Muwattha’; dan
3. al-Fatawa.
Komentar;
Menurut Imam Syafi’i, beliau adalah orang yang sangat fashih. Kerananya, wajar beliau pernah berkata “Andai diri diperkenankan berbicara bahwa sebenarnya al-Qur’an diturunkan dengan lughat Muhammad bin al-Hasan, niscaya akan kukatakan.
Al-Khatib al-Baghday mengatakan bahwa beliau adalah Imamnya ahlu ra’y. ;
Abu ‘Ubaid berpandangan bahwa beliau adalah orang yang lebih tahu tentang makna al-Qur’an.
Harun al-Rasyid berkomentar ketika beliau wafat, ”kita telah mengubur fiqh dan nahwu”.
Sumber ;
Keterangan lebih luas dapat dilihat pada ”Tabaqat al-Hanafiyyah” karya Abu al-’Adl Zainuddin Qasim.