Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Sejarah Asal Usul Suku Dayak

Berdasarkan hasil penelitian antroplogi, suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan (Borneo) bukanlah penduduk asli. Penduduk asli pulau Borneo yang pertama dengan ciri-ciri fisik rambut hitam keriting, kulit hitam, hidung pesek dan tinggi badan rata-rata 120-130 cm. Mereka digolongkan ke dalam suku bangsa negrito sebagaimana yang masih terdapat sisa-sisanya dalam kelompok kecil di malaysia bagian utara.

Di pulau Kalimantan kelompok suku bangsa negrito ini diduga telah musnah setelah datangnya suku bangsa baru yang ber-migrasi dari benua asia sebelah timur yaitu dari Cina. Menurut ahli etnologi, di asia pada awal-awal abad masehi pernah dua kai terjadi perpindahan bangsa-bangsa yang terjadi pada abad ke II dan yang ke dua terjadi pada abad ke IV. Suku bangsa yang datang dan akhirnya mendiami pulau Kalimantan (Borneo) sebagian besar datang pada perpindahan bangsa-bangsa yang kedua yaitu pada abad ke-IV. 

Terjadinya perpindahan bangsa-bangsa ini dilakukan untuk menghindari kekejaman suku bangsa Tar-tar dari Utara yang terjadi sejak zamannya Jengis Khan. Kelompok bangsa yang berpindah itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya bangsa baru seperti Jepang, Taiwan, Philipina dan suku bangsa di Indonesia antara lain suku bangsa di Manado-Gorontalo-Toraja di Sulawesi ; suku-suku di Riau kepulauan, Suku Batak-Nias di Sumatera; serta suku Dayak di Kalimantan.

Cerita mengenai asal usul suku Dayak dimulai sekitar 3000-1500SM, ketika benua Asia dan Kalimantan masih menyatu. Dari banyak cerita dan teori yang pernah dikemukakan, memang yang paling diterima mengenai asal usul suku Dayak di kalimantan adalah teori imigrasi bangsa China. 

Pada saat itu (3000-1500SM), terjadi perpindahan penduduk dari Yunan secara besar-besaran. Migrasi penduduk tersebut dilakukan dalam kelompok kecil, namun kontinyu atau bergelombang. Mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu. Mereka melintasi daratan, menjelajah hutan dan pegunungan hingga sampai di wilayah Indonesia, tepatnya di daratan Kalimantan. 

Pada migrasi gelombang pertama, kelompok negroid dan weddoid berhasil menginjakkan kaki dengan selamat di wilayah pantai Kalimantan. Setelah itu, migrasi gelombang kedua yang jumlah kelompoknya jauh lebih banyak berhasil pula tiba di Kalimantan. Kelompok yang melakukan migrasi pada gelombang pertama ini oleh beberapa ahli disebut Proto-Melayu, sedangkan yang melakukannya di gelombang kedua disebut Deutro-Melayu. 

Bangsa China dari Yunan itu memasuki Kalimantan pada zaman kerajaan Dinasti Ming antara tahun 1368 - 1643. Tujuan utama bangsa China tersebut adalah berdagang. Sepanjang perjalanan, di setiap daerah yang mereka lewati, mereka memperdagangkan barang-barang yang mereka bawa seperti candu, sutera, barang pecah belah yang antara lain adalah piring, cangkir, mangkok, guci dan berbagai macam keramik lainnya. 

Kedua kelompok imigran yang sebenarnya berasal dari negeri yang sama itu akhirnya hidup berdampingan dan menetap di Kalimantan. Dari hanya berdagang, lama-kelamaan terjadi percampuran penduduk melalui perkawinan. Anak-anak hasil perkawinan dua kelompok imigran itulah yang akhirnya menjadi suku Dayak. 

Asal usul suku Dayak ini diceritakan turun temurun dari mulut ke mulut. Dan karena percampuran dengan bangsa China itulah banyak anak-anak suku Dayak yang berwajah oriental, sangat mirip dengan anak-anak China. Bermata sipit dan berkulit kuning langsat. 

Bahkan, gadis-gadis Dayak terlihat lebih cantik daripada gadis China sebenarnya. Gadis-gadis Dayak tersebut terlihat lebih eksotik. Suku Dayak, hasil dari percampuran itu, akhirnya menyebar hampir ke seluruh daerah di Kalimantan. Mereka menyisir sungai-sungai, kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. 

Aktivitas suku Dayak dari China terus berlanjut dan percampuran pun terus terjadi. Perempuan atau laki-laki suku Dayak generasi berikutnya menikah dengan sesama penduduk setempat atau menikah dengan keturunan bangsa China yang menetap di daerah mereka. Akhirnya, aktivitas ini menciptakan asal usul suku Dayak baru, yang disebut suku Dayak murni. 

Asal Usul Suku Dayak - Masuknya Majapahit ke Kalimantan 

Diceritakan dalam asal usul suku Dayak bahwa suku Dayak juga pernah membentuk sebuah kerajaan yang dinamai "Nansarunai Usak Jawa" atau kerajaan Dayak Nansarunai. Namun, kerajaan ini hancur akibat ekspansi kerajaan Majapahit yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya. 

Masuknya kerajaan Majapahit ke Kalimantan menghadirkan kesedihan karena telah menghancurkan kerajaan yang dibangun suku Dayak. Dengan peristiwa tersebut, masyarakat suku Dayak mulai menyebar ke berbagai pedalaman agar tidak tersentuh oleh pengaruh Majapahit. 
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya nenek moyang suku Dayak berasal dari wilayah pegunungan Yunan bagian selatan berbatasan dengan Vietnam sekarang. Kelompok migran yang masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang dan menjadi nenek moyang bagi sebagian besar orang/suku Dayak di Kalimantan Tengah merupakan bagian dari perpindahan bangsa-bangsa ke II pada abad ke IV. Diduga mereka masuk ke Kalimantan Tengah melalui sedikitnya 3 (tiga) koridor yaitu :

1. Koridor I dari Kalimantan Barat menyusuri sungai Kapuas sehingga akhirnya menyeberang/melintas pegunungan Schwaner.
2. Koridor II dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Kutai Barat sekarang
3. Koridor III dari Kalimantan Timur melalui Kabupaten Paser sekarang 

Berdasarkan legenda dan cerita para pendahulu, nenek moyang suku Dayak yang mendiami Kalimantan Tengah sama sekali tidak ada kelompok yang masuk dari muara-muara sungai di sebelah selatan wilayah Kalimantan Tengah yaitu dari arah laut Jawa. Seluruhnya masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang melalui bagian utara dan timur.

Dalam puisi TETEK TATUM di sebutkan bahwa nenek moyang orang Dayak berasal dari Kerajaan Langit, diturunkan dengan ”Palangka Bulau” di (1) Tantan Puruk Pamantuan (2) Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting dan (3) Puruk Kambang Tanah Siang. Perlu diketahui juga bahwa yang dimaksud ”Kerajaan Langit” dimaksudkan menunjuk kepada kerajaan-kerajaan di Cina pada waktu itu.

Menurut legenda, nenek moyang orang Dayak Ngaju berasal dari suatu kerajaan yang terletak dilembah pegunungan Yunan Selatan di Cina Barat Laut. Raja tersebut bergelar THA WONG yang berarti raja besar. Hal ini disebut-sebut dalam puisi TETEK TATUM dengan sedikit perubahan dari THA WONG menjadi TAHAWONG. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dikalangan suku Dayak ada beberapa keluarga dalam memberikan nama bagi anak laki-laki yang lahir dikeluarganya dengan antara lain ; Tahawong, Sahawong, Sawong, Tewong atau Siwong.

Salah satu kelompok migran dari THA WONG tersebur masuk ke Kalimantan Tengah sekarang di duga melalui Kalimantan Barat, dengan menyusuri sungai Kapuas. Dalam mencari tempat pemukiman baru yang aman akhirnya kelompok tersebut menyebarangi sebuah pegunungan (Schwaner). Pemukiman pertama di duga di bangun di hulu anak sungai Katingan antara lain sungai Samba dan sungai Baraoi. Daerah tersebut biasa di kenal dengan sebutan DAHTAH HOTAP. Hingga saat ini di tempat itu masih terdapat puing-puing betang yang sangat besar. Betang tersebut pada masanya dipastikan sangat kokoh. Tiang-tiang betang dibuat dari kayu ulin yang berdiameter anatar 60-70 cm. Dari betang inilah diduga penyebaran kelompok–kelompok kecil kesebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. 

Salah satu kelompok kecil yang di pimpin ”Ongko Kalangkang” pindah ke arah timur dan akhirnya menetap di hulu sungai Kahayan, yaitu di desa Tumbang Mahuroi sekarang. Warga suku Dayak Ngaju mengakui bahwa ”Ongko Kalangkang” adalah nenek moyang mereka dan merupakan cikal bakal adanya suku Dayak Ngaju. Dalam bahasa Ngaju, kata ongko berarti orang tua, persis sama seperti bahasa Cina. Kata Kalangkang merupakan pertautan 3 (tiga) kata yaitu; Ka (atau kho)-La dan Kang.

Migrasi Ongko Kalangkang ke hulu sungai Kahayan (Tumbang Mahuroi) disertai 7 (tujuh) keluarga dan anak menantunya. Atas kesepakatan bersama, maka ke tujuh keluarga anak-menantunya tersebut menyebar mencari tempat pemukiman baru dengan cara menyisir sungai Kahayan ke arah hilir (selatan). Dengan menggunakan rakit-rakit yang dibuat dari bambu dan kayu, rombongan ke-7 keluarga tersebut melakukan perjalanan untuk mencari tempat-tempat pemukiman baru yang cocok.

Dengan demikian di sepanjang sungai Kahayan akhirnya terbangun 8 (delapan) perkampungan asal yang merupakan kampung generasi pertama, yaitu :

1. Tumbang Mahuroi (Ongko kalangkang)
2. Tumbang Pajangei (anak laki-laki)
3. Tampang (anak laki-laki)
4. Sepang Simin (anak laki-laki)
5. Bawan (anak perempuan)
6. Pahawan (Anak perempuan)
7. Bukit Rawi (Anak perempuan)
8. Pangkoh (anak Perempuan)

Dalam buku ”MANESER PANATAU TATU HIANG” atau Menyelami Kekayaan Leluhur yang di susun oleh Dra. Nila Riwut, 2003 halaman 59 tentang ”Asal-usul Suku Bangsa Dayak” dikemukakan adanya pendapat orang lain yang menyebutkan bahwa suku Dayak berasal dari proto-melayu/melayu tua (Maneser Panatau Tatu Hiang, tahun 2003, halaman 59)

Pendapat tersebut diatas sangat spekulatif dan kurang beralasan. Pegunungan Yunan letaknya di wilayah Cina barat laut. Ras Melayu jelas tidak berasal dari Benua Asia Timur tersebut. Nenek moyang orang Dayak Kalimantan Tengah jelas menyebar dari arah utara yaitu dari daerah hulu sungai. Penyebaran terbalik bukan dari muara sungai sebelah selatan Kalimantan Tengah melainkan menyebar dari arah utara dan dari arah timur, artinya justru menyebar dari arah hulu sungai.

Dengan demikian asal-usul orang Dayak dapat disimpulkan bukan dari ras melayu melainkan lebih tepat dari ras Neo-mongolik. Berpindahnya nenek moyang suku Dayak dari daerah asal (pegunungan Yunan) dapat dipastikan telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan bahwa mereka telah memiliki kemampuan navigasi yang memungkinkan mereka berlayar menyeberangi laut Cina Selatan. Ditempat yang baru mereka telah mampu mengenal batu-batuan yang mengandung bijih besi, memproses besi besi menggunakan tanur yang dibuat sendiri. Hasil besi yang diproses itu disebut dengan ”Sanaman Mantikei” atau besi Mantikei yang terkenal sangat kuat. 

Pada zaman sebelum kemerdekaan sampai beberapa tahun awal kemerdekaan, di sekolah-sekolah khusus mata pelajaran ilmu bumi menggunakan buku atlas yang diadakan pemerintah. Khusus pada peta pulau Kalimantan untuk menunjukan nama-sama sungai tertulis antara lain : Dayak Kapuas (besar), Dayak Ketapang, Dayak Lamandau, Dayak Arut, Dayak Kapuas , dll

Dengan demikian yang dimaksud dengan Dayak adalah sungai. Kata Dayak yang artinya sungai tersebut terdapat pada satu anak suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa lokal di Kalimantan Barat dan Serawak.

Pada awal abad ke-XIX seorang ilmuwan barat sekaligus missionaris telah melakukan perjalanan panjang selama bertahun-tahun untuk suatu penelitian tentang suku bangsa dan budaya penduduk yang mendiami pulau Kalimantan. Pada saat itu sungai merupakan satu-satunya prasarana perhubungan dari satu kampung ke kampung lain. 

Di setiap aliran sungai ilmuwan tersebut menyusuri sungai dengan menggunakan perahu yang didayung oleh tenaga upahan dari penduduk setempat. Apabila sampai pada suatu kampung, ia bertanya kepada pengantarnya (guide) tentang nama kampung dan suku bangsa yang mendiami tempat itu. Namun sampai berakhirnya seluruh perjalanan penelitian tersebut, ternyata bahwa semua suku bangsa yang ia temui belum mempunyai nama. Oleh karena itulah didalam tulisan akhirnya ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau Kalimantan diberikannya nama suku Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai.

Perkembangan penduduk dan perkembangaan kampung-kampung baru menjadi sangat pesat. Dari Kahayan inilah penyebaran penduduk terjadi ke arah barat (Sungai Rungan, Katingan, Mentaya, Seruyan, Arut dan Lamandau); ke arah timur dan selatan (sungai Kapuas, Kapuas Kuala, Barito Kuala, Barito Tengah dan sebagian Barito Hulu). 

Memurut Tjilik Riwut dalam bukunya ; Kalimantan Memanggil (1958), suku Dayak Ngaju merupakan suku induk dan terbagi atas 4 (empat) suku besar yaitu :

1. Suku Ngaju dengan 53 anak suku
2. Suku Maanyan dengan 8 anak suku
3. Suku Lawangan dengan 21 anak suku
4. Suku Dusun dengan 24 anak suku 

Hampir seluruh wilayah propinsi Kalimantan Tengah sekarang dihuni oleh warga masyarakat yang tergabung ke dalam suku Dayak Ngaju (dan anak suku). Kecuali sedikit warga seperti sebagian hulu anak-anak sungai Katingan, hulu sungai Kapuas dan hulu sungai Barito di huni oleh suku Ot Danum, Ot Siang, Ot Punan dan Ot Kareho. Nenek moyang suku-suku Ot ini kemungkinan besar memasuki Kalimantan Tengah memalui koridor I dan koridor II dari arah Kalimantan Timur. 

Bahasa yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar warga dari berbagai suku, disamping menggunakan bahasa ibu adalah bahasa Ngaju. Bahasa Dayak Ngaju juga berfungsi untuk menjadi bahasa pengantar atau lingua franca pada sebagian besar suku-suku di Kalimantan Tengah. 

Hubungan Suku Bukit ”Meratus” dengan Ngaju

Penyebutan Dayak merupakan suatu label yang dipergunakan untuk menyebut ratusan suku bangsa asli yang mendiami Borneo. Memang terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang pengertian dari istilah “dayak”. Lindbald menyatakan, bahwa kata Dayak berasal dari kata “daya” (bahasa Kenyah) yang mempunyai pengertian “hulu sungai” atau “pedalaman”. Sementara itu, menurut Riwut, istilah “dayak” dapat dirunut dari bahasa orang Dayak Sahawung, “dayak” atau “daya” berarti “kekuatan”. Namun, pengertian ini menurut Riwut, juga sering disalahartikan oleh orang-orang Melayu atau orang pendatang di Kalimantan, bahwa “dayak” berarti “orang gunung”. Mengapa mereka menyebut sebagai Orang Gunung, karena orang-orang Melayu sering mengucapkan kata “dayak” untuk menyebut suku-suku asli di Kalimantan yang tinggal di gunung (bukit) atau di pedalaman. Demikian juga yang terjadi di daerah Hulu Sungai Selatan (Kandangan), orang-orang Banjar seringkali menyebut “orang dayak” untuk menunjuk pada penduduk asli yang tinggal di perbukitan sepanjang pegunungan Meratus. 

Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Silsilah suku Bukit;

Suku Dayak (suku asal), terbagi 5 suku besar / rumpun:

* Dayak Laut (Iban)

* Dayak Darat

* Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau

* Dayak Murut

* Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:

o Dayak Maanyan

o Dayak Lawangan

o Dayak Dusun

o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan :

+ Dayak Bukit

• dan lain-lain

Menurut Alfani Daud, suku Dayak Bukit sebagaimana suku Banjar, nenek moyangnya juga berasal dari Sumatera dan sekitarnya ( daerah Melayu). Karena itu ada pulanya yang menamakan sebagai "Melayu Bukit" (Bukit Malay).

Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi Ngayau yang ada jaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.

Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang". Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.

Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Bahasa Dayak Bukit, menurut penelitian banyak kemiripan dengan dialek Bahasa Banjar Hulu. Ada pula yang menamakan bahasa Bukit sebagai "bahasa Banjar archais". Bahasa Bukit termasuk Bahasa Melayu Lokal yang disebut Bahasa Melayu Bukit.Berbeda dengan Riwut, penelitian Noerid Haloei Radam membuktikan bahwa orang Dayak Bukit tidaklah serumpun dengan orang Dayak Ngaju, namun mereka lebih dekat dengan atau serumpun dengan orang Banjar

Kedekatan ini dibuktikan dengan adanya kesamaan bahasa dan adanya kesamaan nenek moyang dan sistem religi yang dipercayainya. 

Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan oleh Moh. Soehadha pada tahun 2003 dan tahun 2004, ia berpendapatan bahwa orang Dayak Meratus (Bukit) memiliki rumpun yang sama dengan orang Banjar Hulu. Pendapat tentang kesamaan rumpun suku antara Dayak Meratus dengan orang Banjar Hulu dapat dibuktikan dari cerita-cerita yang dituturkan oleh para tokoh adat Dayak Meratus yang berisi tentang kesadaran dan pengakuan bahwa nenek moyang orang Dayak Meratus umumnya adalah orang Banjar Hulu yang mendiami wilayah Kayu Tangi (Martapura).

Budaya Rumah Betang

Sejak lebih dari 1500 tahun yang lalu kehidupan nenek moyang masyarakat Dayak yang datang ke pulau Kalimantan merupakan masyarakat yang telah memiliki budaya yang tinggi. Namum dalam perkembangannya ditanah yang baru (Kalimantan tengah) kebudayaan mereka tidak berkembang bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Dalam kurun waktu sebelum Perdamaian Tumbang Anoi pada tahun 1894 masyarakat Dayak bermukim terpisah-pisah di perkampungan yang tersebar di sepanjang tepi sungai. Sesuai dengn kebutuhannya untuk tempat tinggal dibangun rumah panjang yang disebut ”Betang”dan menampung seluruh keluarga yang menjadi warga ”Betang”tersebut. Apabila perkampungan dirasakan sebuah Betang sudah tidak mencukupi,maka atas mufakat bersama dibangun betang baru. Betang sebagai tempat hunian bersama di wilayah pedalaman Kalimantan Tengah dan masih bertahan sampai menjelang abad ke-XIX.

Betang juga bisa diterjemahkan dengan Rumah besar dan Panjang. Dan dalam bahasa ngaju adalah huma hai yang artinya rumah besar. Ukuran betang bervariasi sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang mendiaminya. Dalam sejarah perkembangan masyarakat Dayak ada betang yang sangat besar dan panjang yang dihuni oleh warga kurang lebih 100 kepala keluarga. Ada juga betang ukurannya relatif kecil dan dapat menampung 10-20 kepala keluarga. 

Pada zaman dulu,pada suatu lokasi perkampungan dibangun hanya 1 (satu) buah rumah betang sebagai tempat hunian seluruh warga. Namun dalam perkembangannya mulai pertengahan abad ke XIX mulai muncul perkampungan yang terdiri dari 2-3 betang dengan ukuran kecil. Kontruksi rumah betang dibangun dengan menggunakan tiang-tiang penopang yang sangat kokoh dari kayu ulin. Bahkan pada puing-puing betang yang ada di Datah otap di bagian hulu sungai samba-baraoi tiang-tiang ulin tersebut berukuran 60-70 cm. Bangunan betang bisa mencapai ketinggian 5-6 meter dari permukaan tanah dengan tangga lokal (hejan)2-3 tingkat. Tingginay bangunan tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi serangan binatang buas dan musuh sehingga senjata tombak musuh tidak akan mencapai lantai betang. 

Oleh karena itu betang dalam istilah Dayak ngaju di sebut ”Betang panjang palataran lumbah,Huma hai bendera gantung”. Secara keseluruhan rumah betang meliputi ; betang panjang,Balai basara,Balai Garantung,Lepau (Lumbung padi),Sandung,Patahu,Batang talian (termasuk fasilitas MCK dan tambatan perahu). Di dalam betang ini juga dibangun ruangan khusus untuk seorang gadis dan keluarga terpandang yanmg dipingit samapi gadis tersbut menikah. Selam dalam pingitan tersebut,sang gadis di beri pelajaran kepandaian seorang putri seperti merajut,menenun,menganyam serta pelajaran tentang kepribadian,etika adat istiadat dan lain-lain. 

Dalam betang sebagai hunian baik untuk seluruh atau sebagian warga perkampungan ikut bertumbuh kembang kebudayaan,adat kebiasaan dan hukum adat masyarakat dayak. Warga betang dipimpin oleh kepala betang dibantu oleh perangkat organisasi dilingkungan betang tersebut sebagai suatu perkampungan. Berbagai hal menyangkut kepentingan bersama dibahas melaui musyawarah untuk mufakat.

Seiring dengan perkembangan zaman lebih-lebih dampak dari masuknya kebudayaan dari luar,maka betang sebagai tempat hunian bersama menjadi kurang menarik dan makin lama makin ditinggalkan. Arus kehidupan modern yang lebih bersifat individualistis serta pengaruh berkembangnya pendidikan,ilmu pengetahuan dan teknolog,secara perlahan dan pasti betang sebagai bentuk tempat hunian bersama tidak dipertahankan lagi. Betang-betang yang masih ada sampi saat inimerupakan sisa-sisa betang yang dibangun pada abad ke-XIX atau sebelumnya. Sampai saat ini saat ini di Kalimantan Tengah hanya terdapat belasan rumah betang yang tersebar di berbagai kabupaten.(lampiran gambar.....) 

Meskipun demikian dewasa ini kembali disadari bahwa kearifan dan kebijakan yang diterapkan oleh kepala betang masa lampau beserta organisasi perangkatnya ternyata memiliki nilai budaya yang luhur dan tinggi. Banyak tokoh masyarakat dan budayawan daerah berpandangan adalah menjadi kewajiban bersama untuk mengangkat dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam masyarakat betang menjadi falsafah hidup yaitu falsafah budaya betang. 


Sumber :
(adat istiadat Dayak Ngaju- Pemerintah Kota Palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)
http://www.anneahira.com/asal-usul-suku-dayak.htm
http://dayakofborneo.blogspot.com/2013/07/asal-muasal-suku-dayak.html

Rabu, 07 Mei 2014

Mandau : Senjata Khas Dayak

Mandau berasal dari asal kata "MAn-Da-U" adalah nama seseorang yang datang ke pulau kalimantan yaitu dari suku kuno china "Namman" atau Barbar Selatan. Man Da U adalah nama seseorang yang pertama membuat bentuk senjata pedang yang menyerupai bentuk bilah pedang/parang mandau saat ini.

Mandau
Man Da U datang ke pulau kalimantan beserta para tawanan perang Bangsa Barbar Selatan, ada laki-laki dan perempuan kemudian mereka dipekerjakan menjadi budak dan mengabdi kepada Man Da U. Man Da U datang ke kalimantan untuk mencari hasil alam, dia berkeliling ke sungai-sungai dan membentuk kelompok-kelompok dari tempat satu dan tempat lainnya. Tubuh-tubuh mereka ditandai dengan ukiran-ukiran tato agar mereka mengenal setiap kelompok klan yang mereka temui.

Man Da U terkenal kejam dan ahli dalam peperangan, kelompok klan mereka melawan bangsa-bangsa lain yang datang ke pulau kalimantan, termasuk bangsa Melayu dan Bangsa Austronesia, karena seringnya peperangan antar klan dan bangsa-bangsa yang datang ke pulau kalimantan, Man Da U menjadi terkenal dengan bilah senjatanya yang tajam dan suka memenggal kepala musuh-musuhnya (adat Pengayauan) hingga para bangsa lainnya tidak berani memasuki daerah mereka. Hingga sampai dengan sekarang Mandau menjadi sebutan nama sebuah senjata adat asli Pulau Kalimantan, orang-orang dahulu jika membuat senjata menamakan senjata mereka dengan sebutan senjata Mandau yang sakti seperti leluhur mereka Man Da U yang membawa adat Pengayauan (pemenggalan kepala musuh).

Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran - ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang dibilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.

Nampaknya dari design Mandau adalah senjata sabet yang memang digunakan untuk memotong kepala, berbeda dengan dohong yang tidak didesign untuk memotong atau menyabet tetapi lebih pada prosesi ritual, maka teori saya pra penggunaan Mandau budaya kayau tidak dikenal oleh sub suku yang terlebih dahulu mendiami pulau Kalimantan (nanti kita akan diskusi mengenai pola migrasi suku-suku dayak). Budaya kayau kemungkinan adalah budaya yang dibawa oleh migrasi-migrasi akhir dari Yunnan China yang memperkenalkan senjata Mandau ini, migrasi akhir ini memasuki pulau Kalimantan di bagian utara (Serawak & Sabah), ini konsisten dengan kisah tetek tatum atau kisah kejadian suku dayak ngaju yang mula-mula mendiami hulu sungai Mahakam yang kemudian harus bermigrasi ke sungai Kahayan karena diserang oleh para kayau dari bagian utara. Bahkan didalam babad kisah tetek tatum ini tidak ditemukan ada cerita “kayau” baik itu dalam kisah Tambun & Bungai. Kayau kemudian baru dikenal sebagi bentuk pembalasan dendam, ini juga yang mendasari adanya korban manusia didalam prosesi tiwah. Penggunaak korban manusia adalah sebagai bentuk pemenuhan perintah orang tua yang kemungkinan adalah musuh yang pernah menyerang kampungnya.

Kampilan
Dan nampaknya persebaran pengaruh mandau tidak hanya di pulau Kalimantan tetapi dikenal oleh suku-suku di Filipina disebut dengan Kampilan. Senjata ini memiliki bilah yang mirip dengan mandau tetapi berbeda pada gagangnya. Bilahnya dihiasi kuningan atau emas berbetuk titik/bulat.

Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang dan berujung runcing. Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Menurut cerita masyarakat dayak, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.

Pada abad-abad ke-19an bilah Mandau sering dibuat dari monosteel seperti gir, namun sejatinya Mandau dibuat dari bijih baja atau dikenal juga batu gunung. Didalam budaya dayak ngaju dikenal beberapa jenis baja atau “sanaman” yang digunakan untuk membuat Mandau:

SANAMAN MANTIKEI
Sanaman mantike sangat dikenal untuk membuat Mandau, konon katanya Mandau yang dibuat dari baja ini akan mampu memotong paku. Biasanya Mandau sanaman mantikei berdasarkan cerita bisa dibengkokan namun sangat tajam dan kuat, bentuknya akan seperti besi yang berkarat tetapi tidak berkarat, dan tidak bisa diberi hiasan/dekorasi.

Mandau mantikei memiliki permukaan besi yg kasar tidak mulus seperti mandau pada umumnya. Permukaan yangg kasar itu merupakan kotoran batu mantikei yangg tidak akan habis kotorannya (bisa habis kecuali besinya habis) dan mantikei memiliki sifat “tada” atau toxic jika melukai seseorang bahkan bisa menjalar lukanya.
Mandau Sanaman Mantikei

Sanaman Mantikei yang dibengkokan

Mandau Sanaman Mantikei
Mantikei ini ada dua jenis yaitu:
1. Mantikei alami —> jenis alami bisa dibengkokkan dan digunakan untuk senjata perang bukan untuk memotong rumput atau pohon pisang karna mantikei bila menancap ke pohon pisang maka pohon pisang tdk putus karna ” bukan makanannya” yg merupakan makanannya sejenis Tulang

2. Mantikei yang disepuh —> mantikei yang alami tapi tidak bisa dibengkokkan karna pengaruh sepuh itu mengakibatkan bilah besinya menjadi keras dan benda keras seperti “paku” merupakan makanannya. Sebelum dan sesudah dibengkokkan alangkah baiknya mantikei digosok daun sirih dahulu karna getah daun sirih membantu melemahkan besi mantikei.

Bahan Mantikei

Besi mantikei setelah dilebur sangat jelas terlihat mengeluarkan kotoran batunya berbeda warna berbada rupa kematangannya.


Sebelum dilakukan peleburan, 2 ekor ayam jantan disembelih diambil darah ayam yang kemudian darah ayam dipercikan ke batu tersebut agar tdk ada terjadi kesialan dan semuanya berjalan dengan lancar baru lah batunya dilebur.

SANAMAN LAMPANG
Secara pribadi aku tidak pernah melihat jenis besi ini, katanya bilah besi ini akan mengapung di air dan juga merupakan bilah yang tajam. Kalau dari cerita kakek ku besi ini berwarna kekuningan, dari beberapa kisah legenda; bijih baja ini dicuri dari alam ghaib. Well mungkin saja kalau dari ilmu kimia besi yang bisa mengapung adalag “lithium” tetapi jika terkena air akan langsung teroksidasi, material lain yang mungkin adalah potassium dan Sodium dalam bentuk metal, tetapi juga besi ini tidak dapat dibentuk menjadi bilah pedang. Dibawah ini artikel mengenai pembentuk metallic lithium, apakah dayak ngaju pada zaman dahulu sudah mengenal pengetahuan semaju ini didalam bidang kimia?? Entahlah.. masih misteri
SANAMAN LAIN
Sanaman lain yang pernah aku dengar tetapi tidak tahu banyak yaitu sanaman Manap, Djangkarang, Montalat dan Sanaman Karam. Sanaman Karam konon katanya memiliki sifat beracun, bukan karena telah diberi racun atau ipu tetapi memang sifat besi ini yang toxi dan mampu membuat luka membusuk apakah sanaman karam ini sama dengan sanaman montalat, juga tidak tahu..
Sanaman Karam

Sanaman Mantikei – Djangkarang 

http://folksofdayak.wordpress.com/2013/09/04/senjata-khas-dayak-part-1/
http://www.anehdidunia.com/2013/05/misteri-mandau-senjata-sakti-suku-dayak.html
http://banuadayak.wordpress.com/2010/09/26/senjata-suku-dayak/

Sosok Misteri Panglima Burung

Pemimpin Dayak Jaman Dahulu
Semenjak meletus perang Sampit tahun 2001 antara Suku Dayak dan salah satu suku pendatang, nama Panglima Burung ini terus menjadi legenda dan mitos yang yang berkembang hampir secara nasional. Ada yang berkata panglima burung adalah wanita, ada juga yang berkata panglima burung dari Kalimantan Barat, ada juga yang berkata Panglima Burung adalah roh nenek moyang.

Kali ini penulis mencoba menyajikan mengenai sosok Panglima didalam Budaya Dayak berdasarkan versi yang berkembang dimasyarakat :

PANGLIMA BURUNG ADALAH SEORANG PANGLIMA DARI DESA MELIAU KALBAR
Konon ia adalah salah satu tokoh yang ikut Perang Maja di desa Melia, beliau lahir di merakai panjang Kab. Kapuas Hulu pada 14 November 1914 dan sudah meninggal pada tanggal 27 Oktober 2005 pada umurnya yang hampir 100 tahun.

PANGLIMA BURUNG ADALAH WANITA MUSLIMAH
Oleh : Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos 
Legenda, kisah atau apa pun bentuk khabar tentang Panglima Burung tidak terdengar antara kurun 1960 sampai tahun 2000. Dengan demikian maka generasi yang lahir antara tahun tersebut dipastikan asing kepada nama Panglima Burung.
Namun tatkala terjadi kerusuhan etnis tahun 2001 di Sampit dan seantero Kalimantan Tengah, tiba-tiba Panglima Burung muncul mendadak. Sekonyong-konyong namanya meroket, sangat menghebohkan dan sangat luar biasa istimewa. Saat itu Panglima Burung sangat dihajatkan kehadirannyasebagai tokok gaib Dayak dalam menghadapi serangan etnis tertentu dari seberanglaut. Apa boleh buat, sesuatu yang sangat lama tidak diketahui dan telah dilupakanoleh sejarah, menjadi bangun dan dihadirkan ke alam nyata. Lalu apa, siapa dan bagaimana Panglima Burung berikut latar belakang ketokohannya? Inilah sebagian kecil jawabannya versi oang-orang kampung yang mendiami Barito pantai.
Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali, Ketua Pondok Pesantren Ushuluddin, Martapura, berkata: “Panglima Burung seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Selain itu ia juga bergelar hajjah”.*1)

Agaknya, kerusukan etnis yang mulai pecah sejak 18 Pebruari 2001 di Sampitmampu memaksa Panglima Burung hadir “dan membantu warga suku Dayak berperang dan mengusir warga etnis Madura. Sebagai Panglima Besar, tentu saja Panglima Burung tidak turun sendiri tetapi membawa sejumlah pengawal alias Pasukan Khusus. Kata Abdul Hadi Bondo Arsyad, seorang Temanggung Dayak dari Tumbang Senamang, Katingan Hulu, “Panglima Burung muncul dengan membawa 87 orang pasukan khususnya”.

Disamping Panglima Burung sebagai panglima tertinggi Dayak,rusuh Sampitjuga menghadirkan beberapa tokoh legenda alam gaib lainnya seperti Panglima Palai, Panglima Api, Panglima Angsa, Panglima Hujan Panas, Panglima Angin dan beberapa panglima sakti lainnya. Yang pasti dari beberapa panglima itu terdapat dua panglima wanita cantik yakni Panglima Burung dan Panglima Api.
Kembali kepada keberadaan Panglima Burung yang legendaris, kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali (56), “Keberadaannya memang nyata, berwujud seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Panglima Burung sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk”.*2) Namun begitu, yang mengejut­kan dari penuturan Kiyai Juhran adalah karena sosok Panglima Burung selaku Panglima Perang Tertinggi Suku Dayakternyata beragama Islam dan menyandang titel seorang hajjah.

Dibawah judul: “Bulan Jihad itu Panglima Burung?”, Anggraeni Antemasmengabarkan: “Pada 52 tahun yang lalu, tepatnya dalam bulan Januari 1949″, dalam kapasitas sebagai wartawan dan kolomnis Harian “WARTA BERITA” Medan, beliau pernah menulis tentang “seorang pejuang wanita suku Dayak di udik Barito yang sakti mandraguna. Konon, dia mengagumkan bukan saja karena keberaniannya menghadapi serdadu Belanda pada awal abad ke-19 tetapi juga wajah dan sosok puteri Dayak tersebut adalah cantik namun beringas”. Kata Anggraeni, “Saya bersamaArsyad Manan, wartawan mingguan “WAKTU” memang telah bersepakat untuk menulis tentang kepatriotan pejuang wanita Dayak tersebut. Saya menulis untuk WARTA BERITA dan Arsyad Manan untuk WAKTU. Sumber utama kami adalah dua orang tokoh Dayak Kuala Kapuas yaitu Willem Anton Samat dan Adonis Samat(ayah dan anak), yang sama-sama senasib dengan kami sebagai orang politik“Republikein” yang tertawan masuk “Interneerings camp” Belanda pada clash II tahun 1948 di Banjarmasin. WA Samat dan Adonis Samat bertutur bahwa pahlawan cantik tersebut keberaniannya luar biasa sekali. 

Salah satunya adalah saat berperang mendampingi Gusti Zaleha dalam Perang Barito. “Amuk Barito itu terjadi pada tahun 1900-1901, dimana suku-suku Dayak Dusun, Ngaju, Kayan, Kinyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama Islam atau pun Kaharingan bersatu bahumembahu menghadapi serangan Belanda. Nama-nama pahlawan Banjar seperti Antasari, Muhammad Seman dan Gusti Ratu Zaleha selalu bersanding bahu membahu dengan (para pahlawan Dayak seperti) Temanggung Surapati, Antung, Kuing, Temanggung Mangkusari dan lain-lain yang merupakan kesatuan kekuatan dalam perjuangan”.*3)

Dalam masa perjuangannya melawan kaum kafir kolonialis Belanda, Panglima Burung yang sangat cantik memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. “Ada yang menyebutnya Ilum atau Itak, namun ada pula nama popular lain yang disandarkan kepadanya yaitu Bulan Jihad. Kabarnya, nama Bulan Jihad dipakai Panglima Burung sebagai nama Islamnya dan dia memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan akrab seperjuangannya. Dan kita ketahui bahwa Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan Selatan, dengan semboyannya: “Haram Manyarah, Waja Sampai ka Puting”.

Dan karena ceritera kepahlawanan ini tetap diragukan orang maka Anggraeni Antemas dalam kesempatan berjumpa dengan Bapak Tjilik Riwut (Gubernur pertama Kalteng) di Istana Merdeka Jakarta tahun 1950 menanyakan kebenaran kisah ini. Tjilik Riwut membenarkan keberadaan srikandi Dayak itu tetapi menurut beliau Bulan Jihad (bukan pejuang wanita asli Dayak Kalteng tetapi) berasal dari Suku Dayak Kinyah (Kaltim). Yang pasti, “nama Bulan Jihad sangat terkenal di antero Barito Hulu dan Barito Selatan”, imbuh Tjilik Riwut. “Dia pendekar sakti mandraguna, punya ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan melibas lawan hanya dengan selendang saja. Dia selalu berjuang berdampingan dengan Gusti Zaleha si pejuang puteri Banjar”. Dengan demikian maka ceritera yang disampaikan oleh WA Samat dan Adonis Samat (1948) sejalan dengan ceritera Pak Tjilik Riwut (1950).

Tatkala tokoh perlawanan Gusti Muhammad Seman meninggal dunia pada tahun 1905,lalu pada awal tahun 1906 Gusti Zaleha berkeputusan turun gunung untuk menyerah kepada Belanda, lantas apa keputusan Bulan Jihad dan sisa prajurit lainnya? Ternyata Bulan Jihad tetap haram menyerah dan tetap bertekad meneruskan perjuangan sekaligus meneruskan pengembaraannya. Maka terjadilah perpisahan yang sangat memilukan.
Dengan berat hati keluarlah Gusti Zaleha dari hutan menuju Muara Teweh dan selanjutnya dibawa oleh kaum penjajah ke Banjarmasin bersama ibunya Nyai Salmah.Sejak perpisahan itu, tidak banyak orang yang tahu dimana keberadaan Bulan Jihad dan kelanjutan perjuangannya. Barulah pada tanggal 11 Januari 1954, Bulan Jihad datang melaporkan diri ke Kantor Pemerintahan setempat di Muara Joloi sehingga saat itulah dia baru mengetahui kalau Indonesia sudah merdeka. Hatinya pun semakin luluh begitu mengetahui sahabat karibnya Ratu Zaleha telah meninggal dunia (24 September 1953) di Banjarmasin. Hari itu orang kembali melihat pemunculannya dan hari itu pula dia kembali mengembara ke hutan rimba untuk selama-lamanya. Inilah sekilas kisah seorang muslimah bernama Bulan Jihad yang setia berperang mendampingi perjuangan Gusti Puteri Zaleha (1903-1906), bahkan dia terus berjuang melewati masa juang pahlawan anti kolonialis lainnya di tanah Dayak ini.

Dari bukti-buki sejarah yang ditunjukkan para pendahulu kita dengan gamblangmenyatakan fakta bahwa kebulatan tekad persatuan, tekad perjuangan mengusirpenjajahan dari negeri ini, tertuang sangat jelas di dalam Perang Banjar dan Perang Barito. Saat itu, Pangeran Antasari, Demang Leman, Gusti Muhammad Seman, Temanggung Surapati, Gusti Zaleha, Bulan Jihad, Panglima Batur, Temanggung Mangkusari, Panglima Wangkang dan lainnya, adalah gambaran bersatunya kesatuan suku-suku Dayak Ngaju, Dayak Dusun, Kayan, Kenyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan. Kata Kiyai Juhran Erpan Alikemudian, “Masa itu telah ada kesepakatan tekad bahwa suku Dayak dan suku Banjar tidak akan pernah berperang sesamanya sampai kapan pun juga”.*4)


*1) Tabloid Bebas, Nomor 092, 7-13 Maret 2001, halaman 5.
*2) Tabloid Bebas, No. 092, 7-13 Maret 2001, hlm 5.
*3) Tabloid Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001, hlm 4.
*4) Tablid Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001, hlm 4-5.

PERLAMBANG SIFAT & PERILAKU ORANG DAYAK

Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka. 

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.

Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual–yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah–dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Sahabat anehdidunia.blogspot.com mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau–memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.

Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah–agama manapun–dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu. 

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

Amun ikam kada maulah sual awan ulun, ulun gen kada handak jua bahual lawan pian malah ulun maangkat dingsanak awan pian, begitu yang diucapkan orang Kalimantan khususnya orang Banjar untuk menggambarkan sikap dari orang-orang Dayak.

PANGLIMA BURUNG ADALAH ROH NENEK MOYANG YANG MERASUKI

Ketika perang Sampit terjadi, diadakan ritual MANAJAH ANTANG untuk memanggil roh-roh nenenk moyang, dari hasil diskusi dengan Bang Glol salah satu yang bergelar Panglima dari Dayak Benuaq. Roh-roh nenek moyang yang sakti ini datang dan bisa merasuki siapa saja, sehingga seketika itu ia memiliki kesaktian, dan jika roh itu pergi maka orang itu kembali menjadi orang yang biasa saja.

http://sejarah.kompasiana.com/2012/04/24/panglima-burung-kartini-bangsa-dayak-3-457805.html
http://folksofdayak.wordpress.com/2014/01/24/panglima-burung/
http://www.anehdidunia.com/2012/07/kisah-panglima-burung-antara-mitos-dan.html
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
 
Support : Creating Website | Mas Template
Copyright © Oktober 2012. Taufik Irawan ::: Official Community ::: - All Rights Reserved
Template Modify by Taufik Irawan
Proudly powered by Blogger