Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Aplikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aplikasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

GERONIMO : Pejuang Terakhir Suku Indian Melawan Penjajah Amerika - Meksiko

Geronimo, Chiricahua Apache leader, 1898
Geronimo. Keinginannya cukup sederhana, kembali ke tanah Arizona. “Kami tidak pernah meminta semua tanah yang pada awal adalah milik kami, kami hanya ingin kembali ketanah indah dimana kami bisa bercocok tanam. Tidak ada tanah seperti Arizona,” kata Geronimo dari tempat penahanannya di Fort Sill Military reservation, Oklahoma, Amerika Serikat pada tahun 1905 (Barrett 1906, p. 213-216).

Geronimo lahir di No-doyohn Canon, Arizona, pada Juni 1829 sebagai seorang Indian Apache. Darah kepala suku Apache diwariskan dari kakeknya, Maco, yang menjadi pemimpin Apache suku Bedonkohe. Saat itu wilayah yang dikuasai oleh Indian Apache meliputi Barat Daya New Meksiko, Barat Daya Arizona dan sebelah Utara Negara Meksiko termasuk kawasan Sonora dan Chihuahua.

Geronimo besar dilingkungan yang sangat kuat nilai-nilai penghormatan dan kecintaan terhadap tanah pertiwi. Orang Indian Apache menganggap tanah adalah wanita, karenanya Bumi bagi orang Apache adalah Ibu (Opler 1941, p. 194). Pada usia 17 tahun, ditahun 1846, Geronimo bergabung dengan dewan prajurit dimana ia akan memiliki kesempatan besar untuk berlaga dimedan perang membela tanah dan kehormatan sukunya.

Kesempatan pertamanya bertempur terjadi pada tahun 1858. Saat itu pasukan patroli Meksiko menyerang sukunya di sebuah kota kecil di Meksiko, yang orang Indian juluki sebagai Kas-ki-yeh, dalam perjalanannya menuju Kota Sonora, Meksiko. Cochies, kepala suku dari suku Chiricahua Apache, kemudian memberinya senjata dan beberapa pejuang untuk membalas dendam.

”Suku saya telah banyak mati ditanah itu, dan saya juga akan mati disana jika diperlukan tapi yang jelas kami tidak akan pernah meninggalkan tawanan,” kata Geronimo dalam pengakuannya kepada penulis buku Geronimo’s story of his life. Pembalasan awal Geronimo pada akhirnya dikenal sebagai Tragedi Pembantaian Kas-ki-yeh.

Sejak saat itu, pertempuran Geronimo melawan pasukan Meksiko terus meluas, hingga ia juga menyerang pasukan ‘seragam biru’ Amerika Serikat. Geronimo kemudian menjadi buron bagi dua negara; Meksiko dan Amerika Serikat. “Ketika pagi datang, kami melihat jauh kebawah perbukitan dan melihat pasukan Meksiko bersama dengan pasukan Amerika datang bersamaan mengepung kami,” kata Jason Betzines, Indian Amerika yang pernah bergabung dalam kelompok Geronimo, pada bukunya berjudul I fought with Geronimo (Betzinez & Nye 1959, p. 74).
Geronimo (Goyaałé), kneeling with rifle, 1887
Menurut The History Channel, Pertempuran Geronimo baru berakhir sepenuhnya setelah 28 tahun kemudian, tepatnya pada 5 September 1886, saat ia menyerah kepada Brigadir Jenderal Nelson, A. Miles. Penangkapan pemberontakan oleh Geronimo setidaknya melibatkankan tidak kurang dari 5 ribu tentara untuk memburunya dan begitu banyak ahli pengirim pesan dari gunung ke gunung (Debo 1976, p. 3). 

Dengan demikian, Geronimo adalah pejuang terakhir Suku Indian yang takluk di bawah kekuasaan AS. Penyerahan ini pun mengakhiri masa Perang Suku Indian di kawasan barat daya negeri itu.

Penyerahan itu membuat Geronimo dan Suku Apache terusir dari wilayah mereka dan dipindahkan ke Florida, serta kemudian Alabama. Keturunan Suku Apache pun dipindahkan lagi ke wilayah konservasi di Comanche dan Kiowa, Oklahoma. Di sana, Geronimo menjadi petani dan memeluk agama Kristen. 
Kendati berstatus tahanan perang, Geronimo berkali-kali menerima undangan dari pemerintah AS, termasuk menghadiri pelantikan presiden baru Theodore Roosevelt pada 1905. Namun, sejak menyerah, Geronimo tidak diperbolehkan mengunjungi tanah leluhurnya

Sebuah perburuan terbesar untuk menangkap pelanggar hukum dalam sejarah Amerika Serikat saat itu. Geronimo meninggal pada usia 80 tahun karena sakit pneumonia. Dia tidak dimakamkan ketanah yang diperjuangkan dan diimpikannya, Arizona.


Kepala Suku Indian Apache, Geronimo (kanan)

Geronimo yang aslinya pahlawan Suku Indian, digunakan sebagai nama kode operasi penyergapan Osama bin Laden. Indian tersinggung, namun tak terkejut.

“Menyamakan Geronimo dengan Osama bin Laden memang menyakitkan dan menyinggung suku kami. Tapi kami sudah lama ditekan, jadi sudah tak menjadi masalah lagi,” ujar Leon Curley, veteran marinir yang keturunan Suku Indian Navajo.

Kepala Suku Fort Sill Apache tempat Geronimo berasal, Jeff Houser, menyurati Presiden AS Barack Obama mengenai hal ini. Ia berpendapat, pemilihan nama Geronimo untuk operasi penyergapan Osama merupakan salah kaprah budaya yang masih berlangsung.

“Kami yakin penggunaan ini karena kesalahpahaman. Terutama dari perspektif sejarah karena Geronimo berjuang melawan pemerintah AS dan Meksiko,” ujarnya.

Dalam kultur pop Amerika saat ini, saat melompat banyak yang meneriakkan kata “Geronimo!” Teriakan tersebut menjadi motto dan slogan dari resimen 501st Parachute Infantry, batalion parasut pertama AS saat Perang Dunia.

Pada 1940-an, serdadu paratroopers di Fort Benning ini menyaksikan film mengenai Geronimo. Di film itu, aktor yang memerankan Geronimo meneriakkan namanya saat melompat dari tebing ke sungai di bawahnya.

Aksi meneriakkan nama ini meniru Geronimo sebenarnya saat melompat dari Medicine Bluff ke Medicine Creek. Seorang serdadu bernama Aubrey Eberhardt diketahui pertama kali menggunakannya, agar saat melompat dari pesawat ia terbukti tak takut. Akhirnya, teriakan nama Geronimo identik dengan segala macam lompatan tinggi di AS.

Harapan, Perjuangan, dan Kegetiran Hidup

“Di hadapanku, berdiri kokoh seorang lelaki dengan mata berwarna gelap. Tatapan matanya tajam, mencerminkan keteguhan batu karang. Apapun yang dilakukan dalam hidup kesehariannya diperhitungkan dengan teliti dan didasarkan pada suatu tujuan yang jelas: mencari kemerdekaan”.

Kata-kata di atas merupakan terjemahan bebas dari catatan harian seorang negosiator dari pemerintah AS yang berhadap-hadapan langsung dengan Geronimo pada pertengahan tahun 1880-an. Opsir itu merasakan kekuatan dan charisma dari seorang tokoh sejarah yang telah mencatatkan diri sebagai orang yang paling dicari dalam sejarah konflik antara pemerintah Amerika Serikat dengan kaum Indian. Dialah sosok Geronimo – pemimpin suku Apache yang serba bisa: sebagai tabib, motivator ulung bagi kelompoknya, ahli strategi, dan penjelajah alam untuk mempertahankan hidup orang-orangnya di alam bebas yang kadang terlalu ganas. Sosok Geronimo tidak bisa dibilang sukses dalam perjuangannya. Kegagalan demi kegagalan telah dia alami. Penyerahan diri kepada pemerintah berujung pada kekalahan total. Orang-orang suku Apache mendapat lebih banyak dampak buruk daripada keuntungan dari kehebatan dan keberanian seorang Geronimo. Sebagai bentuk hukuman, orang-orang suku Apache harus menjalani pengasingan di Florida. Iklim tropis dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk-nyamuk yang membawa malaria, dan beragam penyakit tropis lain yang tidak pernah mereka alami sebelumnya telah melemahkan tubuh orang-orang Apache ini. Hanya dalam hitungan kurang dari tujuh bulan, sudah ada 18 – 23 orang Apache dalam pengasingan ini menghembuskan nafas terakhir. Sebagai kelompok yang diasingkan, kematian macam ini menjadi tanda kehancuran dan kegagalan.

Kegagalan tampaknya terlalu akrab dengan orang-orang Apache ini. Bahkan ketika mereka dipindahkan ke Alabama, tempat dengan iklim yang lebih bersahabat sekalipun, mereka masih tetap harus menderita. Berbagai penyakit menggerogoti mereka dan memakan korban. Beragam penyakit alamiah di tanah Alabama yang jauh lebih hangat dan lembab dibandingkan dengan tempat alamiah mereka sekali lagi membawa kematian demi kematian baik bagi anak-anak maupun bagi kaum dewasa dari suku Apache terhukum ini. Selain jatuhnya korban nyawa akibat sulitnya beradaptasi dengan lingkungan baru, mereka pun harus membuang jauh-jauh impian mereka. Kebebasan bergerak di alam bebas di tanah nenek moyang mereka tidak pernah lagi mereka cicipi.

Dua puluh tahun sesudah penyerahan diri Geronimo tampak makin renta. Dia tidak lagi menjadi sosok ganas yang berapi-api dalam memotivasi orang-orangnya untuk mengangkat senjata dan melawan pemerintah. Namun sorot matanya tetap tajam, menyiratkan harapan dan kepercayaan diri. Upaya bertemu presiden Roosevelt pada awal 1900-an dapat tercapai, setelah bertahun-tahun dia mengubah sikap pemberontak dalam hatinya. Dia menjadi orang tua yang santun dan bijaksana. Namun, sekali lagi, tampaknya kegagalan memang terlalu akrab bagi sosok Geronimo ini. Sekali lagi, satu permintaan terakhir dari orang tua renta ini sama sekali tidak terpenuhi. Keinginannya untuk berkuda di tanah leluhurnya, dan mati serta dikuburkan di antara gunung-gunung yang telah ribuan tahun bersahabat dengan nenek moyangnya tidak pernah tercapai.

101 tahun lalu, tepatnya tahun 1909, Geronimo sang Apache yang agung ini, akhirnya menyerah pada hukum alam yang bernama kematian, tanpa pernah menggapai cita-cita yang dia impikan. Kematian menjemputnya ketika keriput di wajahnya telah menghiasi wajahnya.

Geronimo dikenang bukan karena dia berhasil dalam banyak hal yang dia perjuangkan. Dia meninggalkan kesan beragam yang begitu mendalam. Kepemimpinannya atas suku Apache telah melegenda, lebih karena pada waktu yang sama mengingatkan kita akan dua hal yang saling berlawanan dalam hidup ini: harapan dan kegetiran hidup. Dua sisi dari satu keping mata uang yang saling melengkapi.

Referensi
Barret, SM 1906, Geronimo’s story of his life, Duffield & Company, New York.
Betzinez, J & Nye, WB 1959, I fought with Geronimo, The Telegraphy Press, Pennsylvania.
Debo, A 1976, Geronimo: the man, his time, his place, University of Oklahoma Press, Amerika.
Opler, ME 1941, An Apache life-way: the economic, social, and religious institutions of the Chiricahua Indians, The University of Chicago Press, Chicago.
http://puzzleminds.com/geronimo/#sthash.H8SXqVFh.dpuf
http://web.inilah.com/read/detail/1483432/geronimo-pahlawan-bukan-teroris#.U2Gln4F_u_8
http://filsafat.kompasiana.com/2010/01/19/harapan-perjuangan-dan-kegetiran-hidup-56571.html

Selasa, 29 April 2014

Negara-Negara Ini Menerapkan Hukum Kebiri Kimia Pada Pelaku Kekerasan Seksual

Korea Selatan telah menerapkan hukuman kebiri bagi pelaku pemerkosaan. Bahkan pada Maret pemerintah Ibu Kota Seoul menambahkan kebiri kimia bagi mereka tertuduh kekerasan seksual.

Surat kabar Korea Times melaporkan, Kamis (31/10), kebiri kimia ini bukan menghabisi kemaluan lelaki melainkan menyuntikkan cairan agar kelamin itu tidak berfungsi.

"Ini untuk meningkatkan perlindungan warga Korea Selatan dari kejahatan seksual," ujar Lee Chul Hee pejabat dari kementerian kehakiman.

Hukuman ini menimbulkan pro kontra lantaran dianggap melanggar hak asasi memiliki keturunan. Namun ini akan digunakan jika pelaku mengurangi perbuatannya.

Hukuman suntik kebiri kimia ini harus mendapat rekomendasi dokter ahli. Pelaku dikebiri dua bulan sebelum keluar dari penjara dengan masa hukuman maksimal 15 tahun.
Pemerintah India berencana memberlakukan kebiri paksa bagi pemerkosa. Meski diprotes karena dianggap tidak manusiawi, namun banyak negara yang memberlakukan metode kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual.

Tekanan yang kuat terkait kematian tragis seorang gadis yang diperkosa beramai-ramai di atas bus di New Delhi akhir tahun lalu, membuat pemerintah India berencana memberlakukan hukuman yang lebih keras.

Pemerintah yang berkuasa mengusulkan untuk memperberat hukuman penjara ditambah kebiri kimia paksa bagi para pelaku kejahatan seksual. Pada saat bersamaan, pemerintah Turki tahun ini juga akan memberlakukan hukuman yang sama bagi para pedofil.

Para aktivis hak asasi manusia menentang praktek kebiri kimia paksa, dan menyebut itu sebagai sebuah tindakan melawan kebebasan dan kemanusiaan.

Matikan Dorongan Seksual

Kebiri kimia berbeda dengan metode kebiri fisik. Kebiri kimia tidak dilakukan dengan membedah atau mengamputasi testis.

Secara teknis, kebiri kimia dilakukan dengan memasukkan bahan kimia antiandrogen, baik melalui pil atau suntikan ke tubuh seseorang untuk memperlemah hormon testosteron. Secara sederhana, zat kimia yang dimasukkan ke dalam tubuh itu akan mengurangi bahkan menghilangkan libido atau hasrat seksual.

Kebiri kimia sering dianggap sebagai alternatif bagi hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati, karena pelaku kejahatan seksual bisa dibebaskan dengan mengurangi atau bahkan menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kejahatan yang sama.

Emosional

Direktur Human Rights Watch HRW Asia Selatan Meenakshi Ganguly, kepada Deutsche Wellemenyebut “Ini seperti diskusi di ruang hampa, karena kami tidak tahu pasti apa yang dimaksud ketika orang-orang di sini (India-red) bicara soal kebiri kimia.“

Partai Kongres India yang berencana mengusulkan hukuman ini memang belum memberi penjelasan detail.

“Kami harus memahami dulu mekanisme dan prosedur medis kebiri kimia. Saat ini orang-orang masih terlalu emosi“ kata Ganguly.

Dalam kasus India, dia mengatakan bahwa yang dibutuhkan bukanlah metode hukuman baru bagi pelaku kejahatan seksual. Lebih penting lagi adalah memastikan bahwa para pelaku bisa dituntut dan dihukum, bahkan dengan aturan yang ada saat ini.

“Bicara soal hukuman baru tidak masuk akal“ kata Ganguly sambil menambahkan bahwa dia menentang semua jenis hukuman yang melibatkan unsur penyiksaan dalam bentuk apapun.

Di banyak tempat, pemberlakuan hukum kebiri kimia paksa, biasanya terjadi sebagai respon setelah terjadinya kasus pemerkosaan atau pedofilia yang membuat banyak orang marah.

Pertengahan tahun 2012, seorang laki-laki di Korea Selatan dijatuhi hukuman kebiri kimia karena berulang kali melakukan serangan seksual kepada anak-anak. Inilah untuk pertama kalinya negara itu menjatuhkan hukuman kebiri, sejak aturan itu berlaku dua tahun sebelumnya.

Laki-laki berusia 45 tahun yang empat kali melakukan pemerkosaan dan serangan seksual terhadap anak-anak di bawah umur dikebiri. Dia dibebaskan dari penjara, namun diwajibkan mendapat suntikan kebiri kimia setiap tiga bulan selama tiga tahun.

Sesuai aturan, jika menolak atau tidak datang sesuai jadwal penyuntikan, maka dia bisa dimasukkan kembali ke dalam penjara selama tujuh tahun. Tidak hanya itu. Laki-laki itu juga dipasangi gelang elektronik untuk mengawasi gerak-geriknya di luar penjara. Dia adalah orang terakhir di dunia yang tercatat menjalani hukuman kebiri kimia paksa.

Kebiri Kimia di Dunia

Kebiri kimia digunakan dalam banyak bentuk: sejumlah negara memberlakukan itu sebagai hukuman paksa sebagaimana hukuman penjara.

Sementara di negara lain, kebiri kimia ditawarkan sebagai alternatif untuk mendapat pengurangan masa hukuman. Artinya, para terpidana ditawari untuk mendapat pengurangan masa hukuman asal bersedia menjalani kebiri kimia.

Tahun 2013, Turki kemungkinan akan mulai menerapkan hukum kebiri kimia bagi para pedofil. Mereka berharap metode hukuman ini bisa menciptakan efek jera dan membuat pemerkosaan anak di bawah umur berkurang.

Tahun 2012, Moldova dan Estonia meloloskan aturan mengenai hukuman kebiri kimia. Aturan serupa juga berlaku di banyak negara termasuk Argentina, Australia, Israel, Selandia Baru, dan Rusia.

Setidaknya sembilan negara bagian Amerika: California, Florida, Georgia, Iowa, Louisiana, Montana, Oregon, Texas dan Wisconsin juga memberlakukan beragam versi mengenai hukuman kebiri kimia dalam sistem hukum mereka.

Jerman termasuk negara yang mempunyai aturan mengenai hukuman kebiri. Awal tahun 2012, Komite Anti Penyiksaan Uni Eropa mendesak Jerman agar mengakhiri pelaksanaan hukuman itu. Dalam jawaban tertulis, pemerintah Jerman mengatakan bahwa praktek itu "sedang ditinjau ulang."

Jerman memberlakukan hukuman ini dengan prosedur yang ketat: terpidana sebelumnya diberitahu mengenai dampak dan kemungkinan efek sampingan. Dan yang paling penting: terpidana bersedia menjalani kebiri kimia. Terakhir, hukuman ini dilaksanakan tahun 1960-an.

Tahun 2010 berbagai kelompok hak asasi manusia mengecam pemerintah Polandia yang memberlakukan hukuman kebiri kimia paksa.

Sebagaimana dikutip The Economist, dalam pernyataannya pemerintah Polandia beralasan “Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memperbaiki kesehatan mental terpidana, menurunkan libidonya dan dengan demikian mengurangi risiko kejahatan lainnya dilakukan oleh orang yang sama.“

Menanggapi kritik yang menyebut hukuman itu tidak manusiawi, Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk mengatakan “Saya tidak percaya bahwa kita bisa menyebut para individu atau makhluk-makhluk ini sebagai manusia. Jadi dalam kasus ini, kita tidak perlu mendiskusikan hak asasi manusia.“

Sumber :
http://www.dw.de/kebiri-kimia-kemanusiaan-vs-perlindungan-korban/a-16494556
http://forum.kompas.com/internasional/305500-korea-selatan-kebiri-pelaku-pemerkosaan.html

Minggu, 02 Juni 2013

Mengolah Data Dengan Microsoft Office Access 2007 - Dani R. Taufani

Ebook Tutorial Microsoft Access 2007 Lengkap , Bahasa Indonesia - Microsoft Access bukanlah merupakan aplikasi baru dari microsoft, dalam produk ms. Office sudah tersedia aplikasi ms. access yang bisa sobat gunakan. Banyak sekali fungsi dari microsoft access ini, sobat bisa membuat database , form-form nya dan juga laporan dari database tersebut. Apa lagi hal tersebut tidak memerlukan kode kode yang rumit, hanya dengan meng klak klik saja aplikasi sudah jadi.. Menarik bukan?

Nah disini saya ingin memberikan buku tutorial microsoft access atauebook tutorial microsoft access berbahasa Indonesia yang menurut saya sangat bagus, apalagi ini diberikan gratis. Wah, ternyata banyak juga ya orang yang masih mau berbagi ilmunya secara gratis.. Dan buku tutorial ms. access atau ebook tutorial ms. access ini dibuat untuk orang masih awam atau yang sudah mahir. Hmm.. menarik bukan?

Dan untuk sobat ketahui, jika sobat sudah mahir dalam aplikasi microsoft access ini, sobat bisa menjual aplikasi yang sobat buat ya layaknya programmer yang menjual program atau aplikasinya kepada orang lain lah. Jadi gak sia-sia kan jika kita bisa menggunakan ms. access ini? atau mungkin sobat juga punya sebuah toko dan ingin untuk membuat laporan keuangannya tiap bulan, sobat bisa menggunakan aplikasi ms. access ini untuk mengolah data-data keuangan sobat.. hehehe...
Download Mengolah Data Dengan Microsoft Office Access 2007 - Dani R. Taufani [Klik Disini]
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
 
Support : Creating Website | Mas Template
Copyright © Oktober 2012. Taufik Irawan ::: Official Community ::: - All Rights Reserved
Template Modify by Taufik Irawan
Proudly powered by Blogger